Oleh: Moh. Ridwan
Wartawan LPM Qalamun
Di balai tua yang ditinggalkan, tergantung sebuah cermin besar. Orang-orang desa menyebutnya kutukan, sebab siapa pun menatapnya akan melihat dirinya tanpa bayangan.
Tak seorang pun berani mendekat, kecuali Galih.
Sejak kecil ia hidup dibawah bayang-bayang orang lain, ayahnya yang dihormati, kakaknya yang dielu-elukan, sahabatnya yang selalu jadi pusat perhatian. Galih hanya sisa, tak pernah utuh.
Malam itu ia berdiri di depan cermin. “Jika benar kau bisa menyingkirkan bayangan… biarkan aku melihat diriku sendiri, hanya aku.”
Ia menatap.
Dan benar, bayangannya lenyap. Wajahnya jernih, matanya tegak. Untuk pertama kalinya, ia merasa bebas. Bebas dari perbandingan, bebas dari hinaan, bebas dari suara-suara asing yang menempel.
Namun cermin bergetar. Dari dalam kaca, terdengar bisikan rendah, lirih tapi menusuk:
“Sekarang kau bebas dari bayangan… tapi apa kau sadar? Tanpa bayangan, kau bukan manusia. Kau hanya kosong.”
Galih tersentak. Ia melihat lagi. Wajahnya tetap ada, tapi matanya kini hampa ,tak ada kilau, tak ada hidup. Perlahan, wajah itu tersenyum sendiri… senyum yang bukan miliknya.
“Siapa kau?” Galih berbisik.
Bayangan yang hilang itu menjawab dari dalam kaca:
“Aku adalah dirimu yang kau buang. Dan jika kau tak menerimaku, maka akulah yang akan hidup… menggantikanmu.”
Retakan menjalar di permukaan cermin. Galih mundur, namun bayangannya yang semestinya hilang keluar dari retakan itu, berdiri di belakangnya, identik tapi lebih tegas, lebih gelap.
Sejak malam itu, orang-orang melihat Galih berubah. Lebih percaya diri, lebih kuat, lebih berani. Namun di matanya, selalu ada kegelapan yang tak bisa dijelaskan. Galih selama ini ia membenci bayangan, padahal justru dari bayanganlah ia belajar arah cahaya datang. Tanpa bayangan, dirinya seperti terlepas dari kenyataan.
Dan cermin di balai itu? Retakannya hilang, kembali utuh, seakan sedang menunggu korban berikutnya yang ingin hidup tanpa bayangan.







