Oleh: Luthfia Rahmadani
Wartawan LPM Qalamun
Kuliah bukanlah jaminan untuk langsung mendapatkan pekerjaan, tapi ia adalah proses pembentukan nilai, kapasitas, dan arah hidup. Menyederhanakan kuliah sebagai “cara menunda pengangguran” adalah bentuk kegagalan memahami pendidikan tinggi sebagai alat transformasi. Yang perlu diubah bukan kuliahnya, tapi cara kita menjalaninya.
Banyak yang menganggap kuliah hanya sebagai tiket langsung menuju dunia kerja. Padahal, kenyataannya lebih dari itu. Jika kita melihat kuliah semata-mata sebagai jaminan pekerjaan, pandangan kita menjadi sempit. Kuliah seharusnya dipahami sebagai perjalanan untuk mengembangkan diri, bukan sekadar sarana memperoleh pekerjaan tetap.
Kuliah adalah investasi untuk diri sendiri. Di kampus, kita belajar nilai-nilai penting, mengasah kemampuan berpikir kritis, menyelesaikan masalah, dan bekerja sama dengan orang lain. Kemampuan-kemampuan ini jauh lebih bernilai daripada sekadar ijazah di atas kertas.
Kalau kita menganggap kuliah hanya sebagai sarana menunda pengangguran, berarti kita gagal melihat potensi pendidikan sebagai alat untuk mengubah diri dan masyarakat. Pendidikan tinggi dapat membuka pikiran, meningkatkan kualitas hidup, dan mendorong kemajuan.
Oleh karena itu, yang perlu diubah bukan kuliahnya, melainkan cara kita menjalani prosesnya. Manfaatkan setiap kesempatan untuk belajar, ikut organisasi, dan mengembangkan diri. Jadikan kuliah sebagai waktu untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan berguna bagi masyarakat.







