Oleh: Moh. Khaidir
Wartawan LPM Qalamun
Sinar matahari Sabtu pagi menyelinap malu-malu lewat celah gorden, melukis garis hangat di lantai rumah yang belum kusempurnakan sapuannya. Aroma teh yang baru kuseduh menguar dari cangkir putih, berbaur dengan dengkuran halus dari gumpalan bulu oranye di atas taplak meja yang baru diganti ibuku. Itu Roti, alarm hidupku yang paling setia sekaligus teman sekamarku yang paling pemalas.
Ia menggeliat pelan, memamerkan perut gembulnya sebelum membuka satu mata, menatapku seolah berkata, “Selamat pagi. Sekarang, mana jatah sarapanku?”
Aku tersenyum, mengusap kepalanya yang hangat. “Sabar, Tuan Raja,” bisikku. Di atas meja belajar, di samping laptop dengan halaman makalah yang masih kosong, kamera tuaku tergeletak. Lensa 35mm-nya seolah ikut menunggu, ingin tahu cerita apa yang akan kami abadikan hari ini.
Setelah mengisi mangkuk makan Roti hingga penuh—yang langsung disambut dengan suara kunyahan antusias—aku kembali duduk di kursi kayu dekat jendela. Tugas makalah tentang technopreneurship terasa berat dan menakutkan. Kepalaku penuh dengan teori-teori rumit dan kutipan pengusaha sukses, tapi tak ada satu pun kalimat yang berhasil kutulis. Rasanya, kebahagiaan terlalu besar untuk dijelaskan.
Aku menyeruput teh, membiarkan kepulan uapnya membawaku melayang. Di luar, dunia mulai sibuk dengan ritmenya sendiri: suara motor, tawa anak-anak di gang sebelah, semua terasa jauh. Tapi di dalam sini, waktu seolah melambat, terperangkap dalam keheningan kamarku.
Perhatianku teralihkan saat Roti, setelah perutnya kenyang, melompat anggun ke kusen jendela. Ia duduk diam, ekornya bergerak malas, menatap cicak yang berdiam di sudut kamar. Cahaya pagi lembut menerpa bulunya, menciptakan aura keemasan di sekelilingnya. Ia tak memikirkan tugas kuliah, tak cemas soal masa depan; dunianya hanya sekecil kusen jendela itu, dan kebahagiaannya sesederhana cicak yang menunggu nyamuk untuk dilahap.
Saat itu tanganku bergerak sendiri. Tugas makalah bisa menunggu. Aku meraih kamera kesayanganku, hadiah dari ayah saat semester dua. Inilah momen itu—momen sederhana yang sering luput dari pandangan orang lain yang terlalu sibuk mencari hal-hal besar.
Aku mengangkat kamera perlahan, tak ingin mengusik ketenangan Roti. Jari-jariku memutar cincin fokus, mencari ketajaman pada mata Roti yang bening. Latar belakang gang yang ramai menjadi kabur, menyisakan hanya dia dan dunianya. Tepat saat cicak itu hendak bergerak, Roti sedikit memiringkan kepalanya, matanya memancarkan rasa ingin tahu yang murni dan jujur.
Klik!
Suara shutter memecah keheningan. Rasanya lebih dari sekadar menangkap gambar; aku baru saja mengurung perasaan damai dalam sebuah bingkai digital.
Aku menurunkan kamera, melihat hasilnya di layar kecil. Sempurna. Seekor kucing oranye yang disinari cahaya pagi, dengan sorot mata penuh keajaiban menatap sesuatu yang tak terlihat oleh kita. Bukan sekadar foto kucing di jendela, tapi potret kedamaian, tentang menikmati saat ini, tentang sahabat kecilku yang selalu ada.
Aku tersenyum puas. Roti, seolah tahu tugasnya sebagai model selesai, melompat turun dari jendela dan menggesekkan badannya yang hangat di kakiku, mendengkur keras.
Aku menatap layar laptop yang kosong, lalu kembali pada foto Roti. Tugas makalah tidak lagi menakutkan. Mungkin kebahagiaan tak perlu dicari dalam teori rumit. Mungkin ia ada di sini, di hal-hal yang sering kita anggap biasa.







