Home CERPEN Kue Sederhana untuk Mama

Kue Sederhana untuk Mama

78
0

Oleh Ajmila Zatil Ismah
Wartawan LPM Qalamun

Hari itu, matahari baru saja terbit. Anehnya, ayah sudah sibuk di dapur, menutup-nutupi sesuatu dengan kain. Aku yang baru bangun, melihatnya, dan ayah kemudian berbisik pelan, “Jangan ribut, Nak. Hari ini ulang tahun Mama. Kita kasih kejutan, ya.”

Aku tersenyum lebar. “Mau bikin apa, Yah?” tanyaku penuh semangat.
Ayah mengedipkan mata, lalu menunjukkan sebuah kotak kecil berisi kue yang ia pesan diam-diam semalam. Di atasnya tertancap lilin angka sesuai usia Mama. “Tugasmu nanti adalah mematikan lampu dan membawa Mama ke ruang tamu. Biarkan ayah yang menyalakan lilinnya,” ujarnya.

Sepanjang hari, Mama sama sekali tak curiga. Ia tetap memasak, membersihkan rumah, bahkan sempat menanyakan, “Kamu kok kelihatan sibuk sekali, Yah?”
Ayah hanya tersenyum sambil menggeleng.

Menjelang sore, aku dan ayah menyiapkan semuanya. Kue diletakkan di meja, lilin berdiri tegak, dan ruangan dibuat agak remang-remang. Aku lalu berlari memanggil Mama, “Ma, sini sebentar, ada yang mau aku tunjukkan.”

Dengan langkah pelan, Mama masuk ke ruang tamu. Saat itu, ayah menyalakan lilin, dan aku cepat-cepat mematikan lampu. “Selamat ulang tahun, Mama!” seru kami berdua.

Mama terkejut. Matanya berkaca-kaca saat melihat kue sederhana itu. “Astaga… kalian menyiapkan ini,” ucapnya lirih sambil menutup mulut dengan kedua tangan.

Ayah mendekat, memegang bahu Mama, lalu berkata lembut, “Ini memang bukan pesta besar, tapi aku ingin setiap tahunmu selalu diawali dengan cinta yang tak pernah berkurang. Selamat ulang tahun, istriku.”

Aku ikut menambahkan, “Selamat ulang tahun, Ma. Semoga selalu sehat dan bahagia.”

Mama tersenyum, memeluk kami berdua. Malam itu sederhana—hanya sebuah kue kecil, lilin yang berkelip, dan tawa hangat keluarga. Tapi bagi Mama—dan juga bagi kami—itulah hadiah paling indah: cinta yang nyata, hadir setiap hari.

Kami duduk di sofa bersama, memakan potongan kue sambil bercerita tentang hal-hal kecil minggu itu. Tawa kami mengisi ruang tamu, membuat rumah terasa lebih hangat. Sesekali Mama menatap kami sambil tersenyum, seolah ingin mengabadikan momen itu di hatinya.

Setelah kue habis, ayah membuka album foto lama. Kami menatap gambar-gambar perjalanan keluarga, dari liburan sederhana hingga momen lucu yang membuat perut sakit karena tertawa. Mama terdiam sejenak, lalu berkata, “Ternyata cinta kalian ini sudah ada sejak lama, ya.”

Malam itu berakhir di teras rumah, memandang langit malam yang penuh bintang. Mama memeluk kami lagi, dan aku tahu, hadiah sederhana yang kami berikan bukan sekadar kue, tapi kenangan yang akan selalu kami simpan sepanjang hidup.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here