Oleh : Moh. Aditya Erlangga
Pengurus Redaksional
Detektif Radit memasuki ruang kerja mewah Tuan Wijaya, seorang kolektor jam antik yang baru saja meninggal dunia. Kasus yang harus ia pecahkan bukanlah kematian itu sendiri, melainkan hilangnya ‘Chronos Zephyr’, jam saku emas murni bertabur batu safir yang tak ternilai harganya. Polisi setempat sudah menetapkan kesimpulan awal: pelakunya adalah seorang profesional, sebab jendela ruang kerja itu terkunci dari dalam, namun kait pengamannya tampak rusak dari luar. Radit, dengan tatapan matanya yang tajam dan tak pernah terburu-buru, merasakan adanya kejanggalan yang jauh lebih dalam daripada sekadar pintu yang terkunci.
Di tengah suasana hening dan mencekam, Radit mengabaikan pecahan kaca kecil di dekat jendela yang menjadi fokus polisi. Ia justru mengamati lapisan debu tipis di ambang jendela; debu itu masih utuh, sama sekali tidak terganggu oleh gerakan apapun yang menandakan adanya penyusupan. “Pencuri profesional tidak mungkin masuk dan keluar tanpa meninggalkan jejak tunggal pada debu,” gumam Radit. Ia kemudian berjalan pelan mengelilingi ruangan, jemarinya menyentuh setiap permukaan, mencari kejanggalan yang tersembunyi.
Penyelidikan Radit terhenti di meja kayu Diospyros Celebica besar milik almarhum Wijaya. Meja itu tampak rapi, namun ketika Radit merunduk dan menyentuh bagian bawah laci tersembunyi, indranya menangkap sesuatu yang asing: bau samar, manis, dan unik, seperti campuran tembakau mahal yang baru saja terbakar, Radit juga mencium bau alkohol di sekitar kursi meja tersebut. Aroma itu bukan bau khas Tuan Wijaya, yang diketahui hanya mengonsumsi cerutu kuba murni. Bau ini begitu halus, hanya tercium di dekat area gagang laci tersebut.
Radit lantas menyimpulkan: pelakunya bukanlah penyusup dari luar, melainkan seseorang dari lingkaran dalam Wijaya yang memiliki akses bebas ke ruangan ini dan, yang paling penting, memiliki kebiasaan merokok yang sangat spesifik. Identitasnya langsung mengerucut pada Gavin, keponakan Wijaya yang selalu bersama Wijaya dan sering menghabiskan waktu di ruang kerja tersebut. Gavin adalah satu-satunya anggota keluarga yang diketahui selalu menghisap rokok premium, dan ia memiliki motif yang jelas, utang judi yang melilit.
Kini jelas kejadiannya, Gavin sudah merencanakan kejahatan ini dan masuk sebelum ruangan itu dikunci. Ia menyembunyikan ‘Chronos Zephyr’ di dalam laci tersembunyi tersebut, mungkin untuk mengambilnya kemudian, sebelum akhirnya merusak kait pengaman jendela dari dalam untuk menciptakan ilusi perampokan. Aroma tembakau yang menempel di bawah laci adalah bukti nyata bahwa Gavin berada di sana dalam jangka waktu yang lama, bahkan setelah ‘insiden’ itu terjadi, Ia mengamankan barang curiannya, dan meninggalkan petunjuk aroma yang terlalu kecil untuk diperhatikan oleh penyidik biasa.
Dalam beberapa jam, polisi menemukan Gavin di apartemennya, dan ‘Chronos Zephyr’ berhasil ditemukan kembali—disimpan dalam peti perunggu tua yang disembunyikan di loteng. Radit hanya tersenyum tipis. “Manusia selalu fokus pada pintu yang didobrak dan kaca yang pecah,” katanya kepada rekannya, “padahal kunci kebenarannya seringkali tersembunyi pada jejak sekecil sehelai debu atau, dalam kasus ini, sebatang rokok yang dibakar tergesa-gesa.”







