Home OPINI Membungkam Budaya Pembullyan dengan menumbuhkan Empati di Tengah Krisis Moral Sosial

Membungkam Budaya Pembullyan dengan menumbuhkan Empati di Tengah Krisis Moral Sosial

99
0

Oleh : Zervina Rezykya
Pengurus Redaksional

Fenomena pembullyan yang marak terjadi akhir-akhir ini menjadi alarm keras bagi kita semua. Dari lingkungan sekolah hingga dunia kerja, dari dunia nyata hingga ruang digital, praktik perundungan seolah telah bertransformasi menjadi budaya yang diam-diam dinormalisasi. Dan banyak orang masih memandang bully sebagai hal lumrah, bahkan candaan. Padahal, di balik gelak tawa para pelaku, terdapat luka yang dalam di hati para korban luka yang tidak hanya meninggalkan trauma psikologis, tetapi juga dapat menghancurkan masa depan seseorang.

Dan kasus-kasus perundungan terus bermunculan. Yang dimana sekolah, siswa dirundung karena penampilan, status ekonomi, atau prestasi. Di media sosial, seseorang bisa dihujani komentar kebencian hanya karena berbeda pendapat atau gaya hidup. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat kita sedang mengalami krisis empati. Kita semakin cepat menilai, tetapi semakin sulit memahami. Kita lebih mudah menghakimi, daripada mencoba mengulurkan tangan.

Krisis Moral dan Lemahnya Literasi Emosional yang terjadi di zaman sekarang. Bullying tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh di tengah lingkungan yang kurang menanamkan nilai empati dan saling menghargai. Dalam banyak kasus, pelaku bully justru pernah menjadi korban sebelumnya, sehingga terbentuk rantai kekerasan yang terus berulang. Di sisi lain, sistem pendidikan kita masih lebih fokus pada pencapaian akademik daripada pembentukan karakter. Nilai-nilai kemanusiaan sering kali hanya menjadi slogan dalam upacara, tanpa benar-benar dihayati dalam keseharian.

Kehadiran media sosial juga memperparah situasi. Ruang digital memberi kebebasan tanpa batas, tetapi tidak semua orang siap memanfaatkannya dengan tanggung jawab moral. Cyberbullying kini menjadi bentuk baru dari kekerasan sosial yang efeknya lebih luas dan lebih cepat menyebar. Satu unggahan bernada ejekan dapat menimbulkan tekanan psikologis luar biasa bagi korban, bahkan hingga menyebabkan depresi atau tindakan ekstrem seperti bunuh diri.

Menyelesaikan masalah bullying tidak bisa hanya diserahkan kepada sekolah atau lembaga pendidikan. Ia membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat orang tua, pendidik, media, bahkan pembuat kebijakan. Orang tua perlu menjadi teladan dalam hal empati, mengajarkan anak untuk menghargai perbedaan sejak dini. Sekolah harus menciptakan lingkungan yang aman, dengan sistem pengawasan dan pelaporan yang tegas terhadap kasus perundungan.

Pemerintah juga memiliki tanggung jawab besar. Penegakan hukum terhadap kasus perundungan, terutama yang terjadi di dunia maya, perlu diperkuat. Kampanye nasional anti-bullying harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan sekadar seremonial. Media massa pun berperan penting dalam mengedukasi publik, dengan menyajikan pemberitaan yang berimbang dan membangun kesadaran sosial, bukan sekadar mengejar sensasi.

Menumbuhkan Empati, Membangun Kemanusiaan
Langkah paling mendasar untuk membungkam budaya bully adalah menumbuhkan empati. Kita harus belajar untuk merasakan apa yang orang lain rasakan. Empati bukan sekadar perasaan iba, melainkan kemampuan untuk memahami tanpa menghakimi. Jika setiap individu mampu melihat sesama sebagai manusia yang setara, bukan objek olok-olok, maka budaya bully akan kehilangan ruang untuk tumbuh.

Membentuk generasi yang berempati memang bukan pekerjaan mudah. Ia membutuhkan proses panjang dan konsistensi. Namun, langkah kecil dari setiap individu tidak ikut menertawakan, tidak menyebarkan kebencian, dan berani menegur ketika melihat perundungan adalah pondasi besar untuk perubahan sosial.

Bullying bukan sekadar perilaku menyakiti, tetapi cerminan dari lemahnya karakter bangsa. Karena itu, menghentikannya adalah tanggung jawab moral kita bersama. Bangsa yang besar bukan hanya yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi, tetapi juga yang kaya akan empati dan rasa kemanusiaan. Saatnya kita membungkam budaya bully dan menumbuhkan empati agar generasi masa depan tumbuh dalam lingkungan yang menghargai, bukan menghancurkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here