Home CERPEN Pulang yang Ditemukan

Pulang yang Ditemukan

36
0

Salsabila Dwi Putri
Wartawan LPM Qalamun

Sejak awal masuk kuliah, gadis itu merasa kampus adalah ruang yang terlalu luas untuk dirinya. Ia datang dengan semangat yang rapi di awal, namun perlahan runtuh oleh perasaan asing. Di ruang kelas, ia duduk, mencatat, mendengarkan, lalu pulang. Tidak ada yang salah, tetapi juga tidak ada yang benar-benar terasa. Hari-harinya berjalan efisien, namun kosong.

Ia sempat berpikir bahwa kuliah memang seperti itu: menuntut, individual, dan sunyi. Gadis itu mencoba menyesuaikan diri, bergaul seperlunya, berbicara seperlunya. Namun semakin lama, ia menyadari bahwa yang membuatnya lelah bukan tugas atau nilai, melainkan perasaan tidak memiliki tempat untuk pulang. Kampus baginya hanyalah bangunan dengan jadwal yang harus ditaati.

Segalanya mulai berubah ketika seorang gadis itu secara tidak sengaja mengikuti rapat terbuka sebuah organisasi mahasiswa. Awalnya, ia datang tanpa ekspektasi, duduk di barisan belakang, dan berniat pergi lebih awal. Namun diskusi yang berlangsung terasa berbeda. Tidak sempurna, tidak selalu rapi, tetapi jujur. Ada tawa, perbedaan pendapat, dan kegelisahan yang diucapkan tanpa takut dianggap lemah. Untuk pertama kalinya, ia merasa didengar tanpa harus menjelaskan terlalu banyak.

Hari-hari berikutnya, organisasi itu menjadi ruang yang ia tunggu. Bukan karena kegiatannya selalu mudah, justru sering melelahkan. Namun di sanalah seorang gadis itu belajar bertanggung jawab, berbagi beban, dan tumbuh bersama orang lain. Ia menemukan bahwa pulang tidak selalu berarti tempat yang tenang, tetapi tempat di mana ia boleh menjadi dirinya sendiri, dengan segala keterbatasan dan proses.

Pada akhirnya, seorang gadis itu memahami bahwa rumah tidak selalu berbentuk bangunan atau asal-usul. Rumah bisa berupa pertemuan, perjuangan bersama, dan rasa memiliki yang dibangun perlahan. Di tengah kesibukan akademik dan tuntutan hidup mahasiswa, organisasi itu menjadi tempatnya bertahan—bukan untuk lari dari kuliah, tetapi untuk menemukan makna di dalamnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here