Oleh : Arwita Ramadhani
Pengurus Redaksional
Pemeran :
~Indi : Suka membully, kasar, ketua geng, dan sering berbuat ulah.
~Irma : Anak buah Indi, ikut membully ketika disuruh oleh ketuanya.
~Taslim : Anak buah Indi, sok berkuasa dan kasar.
~Angga : Dingin tapi peduli dengan sekitar, cuek ketika akan dibantah.
~Ruhul : Sasaran bullyyan, sabar, dan pintar Matematika.
~Anya : Baik, peduli kepada orang lain.
~Bu Lastri : Guru Matematika, baik, peduli dan suka menasehati.
Pada hari Senin tepatnya pada jam istirahat Pertama, Indri dan kawan-kawan mengeluh karena Bu Lastri memberikan tugas yang sangat banyak dan susah. Mereka kesulitan dalam mencari jawaban dari soal Matematika tersebut.
“Ini meta kemana sih, udah 1 minggu dia enggak dateng”, ucap indi sambil meletakkan tangan dipinggang.
Disebelahnya Irma tiba-tiba nyeletuk.
“Kenapa pake segala nyariin dia sih”, ucapnya kepada indi.
“Ya iyalah di cariin, kita itu udah ga punya kunci jawaban lagi kalau dia ga ada.” ucapnya
“Iya nih, udah lama juga kita ga bully dia”, kata Taslim bersemangat.
“Iya, kangen banget Ngebully lagi”, ucap irma sinis.
“Jadi gmna?”, tanya indi.
“Apanya yang gmna?”, balas Taslim tampak kebingungan.
Indi maju didepan sambil berjalan mengelilingi mereka berdua.
“Ya itu, kan tadi Bu Lastri kasi kita tugas. Dan kamu tau kan gimana susahnya soal Matematika itu”, ucapnya kesal.
Tiba-tiba Irma berdiri dan meletakkan jari telunjuknya di kepala.
“Gimana kalau kita cari sasaran lain aja?”, katanya sambil meletakkan telunjuk di dagu.
“Iya juga sih. Selain Meta, Ruhul juga pintar Matematika kan. Dan juga orangnya kutu buku banget, cupu lagi”, ucapnya setuju dengan ucapan Irma.
“Aku sih setuju-setuju aja”, ucap taslim mengangguk- nganggukkan kepala.
“Kalau dia ga mau, kita paksa”, tegas Irma.
Setelah percakapan ketiga orang tadi, merekapun menghampiri meja Ruhul dengan tujuan untuk meminta Ruhul mengerjakan tugas yang diberikan guru.
Taslim kemudian mendekat ke depan meja Ruhul.
“Hey, anak cupu. Kamu pintar Matematika kan?”, katanya dengan wajah sangar sambil memukul meja.
“Eh, enggak. Aku ga pintar”, ucap Ruhul kaget kemudian menggeleng.
“Tapi bisa kan!!”, nimbrung Indi memberi penekanan.
“Iya sih bisa, tapi ga pintar banget. Emangnya kenapa yah?”, katanya dengan wajah mendongak ke arah mereka bertiga.
Tapi
“Oke, kita disini ga mau basa-basi ya. Kamu harus kerjain tugas kami bertiga”, ucap Taslim nyolot.
“Iya nih, kita ga paham, ga tau juga ngerjainnya gimana”, kata Irma sambil menyodorkan buku yang berisi tugas.
“Ouh, kalau kalian engga paham. Sini aja belajar sama aku”, ucapnya melihat ke arah mereka.
“Kita bukannya ga mau belajar dan memahami soal itu, cuman malas aja sih berhadapan sama rumus-rumus yang ga jelas itu”, kata Indi sambil mengibaskan tangan seperti tidak peduli.
“Nah, kalau begitu ceritanya kalian tidak akan pernah paham”, ucap Ruhul memberi pemahaman
“Kamu ini ya, kalau disuruh kerjain, ya kerjain. Ga usah ngebacot”, ucapnya tegas, mulai tersulut emosi.
“Udah ya, kita engga mau dengerin alasan apa-apa lagi. Sebelum ibu guru memintanya, tugas itu harus selesai, titik!!”, tegas Indi penuh penekanan.
“Iya! kalau tidak, kamu akan dapat balasannya dari kami”, ucap Irma mengancam.
“Untung saja kami belum bertindak!!”, kata Taslim berlagak.
“Kalian ini kenapa sih. Kalau ga paham, langsung nanya aja”, ucap Ruhul dengan lembut tapi penuh penekanan.
Selang ucapan Ruhul, beberapa detik kemudian Taslim maju dan menggeser meja Ruhul dan mendekat dihadapannya.
“Mancing emosi nih anak”, kata Taslim sambil Menarik kerah baju Ruhul.
Angga yang melihat situasi tersebut, mendekat dan berusaha untuk memisahkan mereka berdua.
“Kamu bisa ga sih ga bertindak kasar? Kalau dia ga mau ya sudah, kerjain sendiri sana”, ucapnya sambil menahan tangan Taslim.
“Kamu ga usah ikut campur!!”, kata Taslim kemudian melepaskan genggaman Angga dari tangannya.
“Ini bukan masalah ikut campur atau engga. Tapi masalahnya, kalian udah terlalu sering ngebully, apa kalian ga bosan gitu??”, katanya lirih, memberi pemahaman.
Anya yang sedari tadi hanya duduk diam di bangkunya ikut nimbrung dan menengahi situasi tersebut.
“Iyya bener kata Angga, kalian ini engga capek apa. Kalian juga udah sering tuh masuk BK. Dan sampai sekarang, kalian ga mau berubah juga”, ucapnya.
“Ini urusan kami, kalian ga usah ikut campur. Ya terserah kami lah, mau ngebully atau enggak itu ga ada urusannya sama kalian”, ucap Indi sambil memandang Angga dan Anya secara bergantian.
Tidak terima dengan pembelaan yang disampaikan oleh Indi, Anya mengingatkan mereka atas kejadian yang sudah pernah terjadi sebelumnya.
“Kamu ngomong kayak gitu, karena kamu bukan korban. Kamu ga paham sama perasaan org yg di bully ataupun di manfaatin. Kayak meta, kalian bilang dia sahabat kalian, tapi apa kalian cuma manfaatin dia dan ngebully dia dengan seenaknya. Meta ngerasain smuanya, pasti
dia sakit hati banget”, ucapnya memberi nasehat dan menatap mereka bertiga.
“Kamu ga usah ceramah ya. Sok alim banget sih jadi orang”, ucap Irma kepada Anya kemudian mendengus.
“Ga ceramah kok, ngingetin doang”, ucap Anya sambil berpindah tempat dan keluar dari kelas.
Disamping itu, Angga terus berada didekat Ruhul untuk menenangkan di situasi itu.
“Kamu engga usah kerjain tugas mereka”, ucap Angga sambil memegang pundak Ruhul.
Brakk….
Bunyi itu datang dari belakang Angga, Indi memukul buku yang ada di atas meja dengan sangat keras. Angga kemudian langsung berbalik dan melihat Indi yang menatapnya sinis.
“Eh ini apaan sih, kamu ga usah sok ya jadi orang. Ruhul akan tetap kerjain tugas kami”, kata Indi memberi penekanan dan menatap Angga.
“Kerjain ya, awas aja kalau engga”, ucap Taslim dengan tatapan tajam.
“Yuk temen-temen kita ke kantin!”, lanjutnya kemudian berlalu pergi.
1 minggu kemudian, tibalah dimana hari pengumpulan tugas MTK. Semua siswa bersiap dan menunggu ibu Lastri masuk ke kelas.
Di sisi lain, di pagi hari yang cerah, Indi dan kawan-kawan masuk kedalam kelas dan menuju ke meja Ruhul. Mereka bertiga akan menagih tugas Matematika yang ditugaskan kepada Ruhul untuk diselesaikan.
“Hari ini waktunya mengumpulkan tugas Matematika, Punya kami sudah selesai kan?!”, Irma bertanya kepada Ruhul.
Pada saat itu Ruhul sengaja tidak menjawab dan tetap fokus pada buku didepannya.
“Hey cupu, jawab gih. Punya kami udah selesai kan?”, tanya Taslim.
Menutup buku kemudian menatap mereka bertiga “Aku kan udah bilang, kalau ga paham silahkan bertanya”, jawab Ruhul dengan nada lembut.
“Jadi, kamu ga selesaiin tugas kami? Berani banget ya kamu!! Kayaknya kamu emang mau deh dibully habis-habisan sama kita bertiga”, ucap Indi sambil menatapnya dengan tajam.
“Sebelum kami yg dapat hukuman, kamu dulu yang harus dapat hukuman itu!!”, Irma memberikan penegasan.
“Ini akibatnya karena kamu udah ngebantah perintah kami!!”, kata Taslim tertawa sambil Mencoret wajahnya.
“Kalian ini apa-apaan sih”, ucap Ruhul sambil berdiri dan memberontak.
“Siapa suruh ga mau dengerin perintah kami ha!! Tahan tangan dia”, ucap Indi melihat ke Taslim dan Irma.
“Rasain ini!!”, lanjutnya dan menjambak rambut Ruhul.
“Kami kan udah bilang, lakuin apa yg kami minta!! hahaha”, kata Irma sambil melipat tangan di depan dada.
Angga dengan sigap membantu Ruhul dan menjauhkannya dari mereka.
“Kalian ini bener-bener ga ada kapoknya yah!! Kalian bakal dapet hukuman lebih kalau kalian melakukan bullying!!”, ucap Angga memberi peringatan kepada mereka bertiga.
“Apaan sih, ga usah ikut campur bisa?”, ucap Indi dengan sinis kepada Angga.
Selama itu terjadi, anggota kelas hanya melihat kelakuan mereka yang hampir setiap hari itu juga terjadi pada meta.
Kemudian, dari pintu Anya masuk dan melihat kondisi kelas yang tidak kondusif.
“Kalian itu udah terlalu sering ngebully, apa kalian ga merasa bersalah?”, Angga bertanya dengan nada tidak habis pikir dengan kelakuan mereka.
Anya berjalan mendekat ke tempat mereka berkumpul.
“Ini Ruhul kenapa? kalian buat ulah lagi?”, tanya Anya dengan raut wajah bingung.
“Kalian berdua itu ya, kalian ga berhak halangin kami untuk ngebully dia”, Indi berkata sambil melihat Angga dan Anya.
“Dan kamu juga engga berhak buat ngebully dia atau siapapun itu”, Anya memberi Penekanan.
“Ga usah sok jadi pahlawan kesiangan deh kalian ber2”, ucap Irma melihat ke Anya & Angga.
“Kami bukan sok, emangnya salah apa, kalau kami ngelarang kalian buat ngelakuin hal buruk? Kalian itu udah terlalu sering ngelakuin hal buruk kayak gini, bukan kalian yg merasakan rasa sakit itu. Kalian lakuin semua itu, seakan-akan kalian lah yang paling benar. Orang-orang mungkin berpikir bahwa kalian manusia yg ga berperasaan dan ga punya hati”, Anya memberikan pemahaman kepada mereka.
“Jaga mulut kamu ya!!”, kata Indi marah dan menunjuk Anya.
“Apa? Kalian ga sadar ya? Meta itu udah 2 minggu ga dateng karena dia sakit. Dan kalian tau apa penyebab nya, fisik meta lemah, psikologinya terganggu. Itu semua karena kesalahan kalian. Kalian seharusnya inisiatif buat jenguk dia. Kalian seharusnya merasa bersalah dan berhenti buat ngelakuin hal yang sama”, kata Anya terbawa suasana sedih.
“Bacot banget sih ini org!!”, kata Irma kesal, tidak ingin mendengar bacotan Anya.
Kring kring kring (bel berbunyi)
Setelah masalah yang terjadi di kelas, tidak lama kemudian bel berbunyi menandakan untuk kelas dimulai.
“Masih pagi, kamu ga usah ceramah!!”, kata Indi sambil melihat ke Anya.
“Lepasin dia, kita bakal lanjutin nanti”, lanjutnya kemudian berlalu pergi.
Dari pintu, terlihat Bu Lastri masuk ke dalam kelas.
“Assalamualaikum anak-anak”, ucap bu Lastri dengan wajah muram.
“Wa’alaikumussalam Bu”, semuanya menjawab.
Ini Ruhul kenapa?”, tanyanya kemudian duduk.
“Gapapa kok Bu”, jawab Ruhul senyum.
“Ooohh, baiklahblangsung saja, hari ini ibu tidak masuk mengajar ya. Karena hari ini kita akan pulang cepat”, ucapnya sambil melihat kepada semua siswa.
“Yes, ga jadi dihukum”, bisik Irma kepada Indi.
Indi pun tersenyum dan senang karena mereka tidak akan mendapatkan hukuman.
“Ibu, akan menyampaikan kabar duka. Teman kalian, meninggal subuh dini hari. Atas nama Meta Aprilia putri”, berkata lirih dan sedih.
Setelah penyampaian itu, Indi terdiam beberapa lamabsambil memandang Bu Lastri.
“Innalilah, AstagfirullahalAdzim meta pasti udah ga kuat”, ucap Anya dari tempat duduk dengan wajah sedih.
“Apa ini ada kaitannya tentang fisik meta yg udah lemah dan psikologis nya ya Bu?”, Angga bertanya ke Bu Lastri untuk memastikan.
“Iya, Meta meninggal karena fisik nya sudah lemah sekali. Dia sudah tidak kuat”, jawabnya sambil berdiri dari duduknya.
Ruang kelas seketika hening setelah mendengar berita duka itu. Indi menundukkan wajahnya, Ia dikelilingi rasa bersalah atas kabar tersebut.
“Pesan ibu hanya satu kepada indi dan kawan-kawan. Kalian harus mengambil hikmah dari kejadian ini, kalian jangan melakukan hal yang buruk, jangan bertindak semau kalian. Ibu sudah berulang kali menegur kalian, tapi apa? Kalian tidak mau mendengarkan. Dan skrng, setelah kejadian ini kalian harus sadar”, ucap bu Lastri sambil menghela nafas.
“Nasihat ini, bukan cuma untuk Indi dan teman²nya yah. Tapi untuk kalian semua juga”, lanjutnya tersenyum getir.
“Apakah ini semua kesalahan aku?”, monolog indi dengan raut wajah sedih.
“Baiklah, kalian boleh langsung pulang. Ibu Pamit”, lanjut bu Lastri mengakhiri kalimatnya dan keluar dari kelas.
Disudut ruang kelas, bangku paling ujung. Indi seketika diselimuti kesedihan dan rasa bersalah, dua temannya pun menghampiri.
“Meta, maafin aku. Ini semua terjadi karena kesalahan aku. Maafin aku meta”, ucap Indi sedih dan merasa bersalah.
“Meta, maafin kami”, kata Irma ikut bersedih.
“Penyesalan memang tetap berada di akhir yah”, Anya menyaut dari bangkunya.
“Semoga dari kejadian ini, kalian ga bakal ngelakuin hal yang sama lagi”, ucap Angga berdiri sambil melihat teman-temannya.
“Aamiin, smoga yah”, ucap Anya mengaminkan perkataan Angga sambil tersenyum getir, kemudian menuju ke bangku Indi.
“Ini kesalahan aku, aku mau minta maaf sama meta. Tapi gmna caranya?”, Indi terus merasa bersalah dan sedih.
Anya yang mendengar hal itu memberikan sarannya.
“Ada kok caranya, dengan kamu berhenti ngebully org² meta bakalan senang, dia pasti akan maafin kamu”, ucapnya tersenyum getir dan melihat Indi.
“Kamu juga doain dia, smoga dia tenang disana”, lanjutnya kemudian melihat kedepan.
“Iya, aku juga mau minta maaf sama kamu, aku udah ngebentak dan ngatain kamu sok alim. Sekali lagi maafin aku yah”, kata Indi sambil menggenggam tangan Anya.
“Iya, udah dimaafin kok”, balas Anya sambil tersenyum.
“Ruhul, aku juga mau minta maaf sama kamu. Kamu boleh nyiksa aku balik, asalkan kamu mau maafin aku”, ucap Indi menghadap ke Ruhul dan meletakan tangan di depan dada 🙏🏻
“Sudah ku maafin. Yang penting kamu ga ngebully lagi ya”, balas Ruhul sambil menghadap ke Indi dan tersenyum.
Kemudian Taslim dan Irma juga menghampiri Ruhul untuk meminta maaf atas kesalahan mereka.
“Maaf ya”, kata Taslim mengulurkan tangannya.
“Kami udah sadar sekarang, maafin kami yah”, ucap Irma meletakkan tangan didepan dada.
“Iya”, jawab Ruhul sambil mengangguk.
“Aku juga minta maaf sama kalian smua yah”, ucap Indi berdiri menghadap ke teman sekelas, sambil tersenyum.
“Akhirnya, semoga kedepannya ga ada lagi ya, yang ngelakuin bullying disekolah”, kata Anya bijak sambil tersenyum dan bernafas lega.
“Iyaaaa”, semua anggota kelas berseru dan mengangguk.
Setelah kabar duka itu, menyadarkan geng Indi atas kesalahan yang telah mereka lakukan. Pembullyan di sekolah ataupun di luar sekolah itu adalah hal yang salah yang pernah mereka lakukan.
SELESAI







