Oleh : Nur Aulia Rahmadani
Pengurus Redaksional
Sudah hampir pukul dua belas malam. Perpustakaan mini itu tinggal menyisakan suara kipas angin yang berdecit pelan.
Di ruangan kecil, tumpukan kertas proposal berserakan, dan beberapa snack menunggu disesap.
Hanya tinggal beberapa orang: saya, Ana, Anisa, Defa, Fadnur, dan Nafisa.
Mereka sibuk memeriksa ulang anggaran kegiatan, sementara saya menatap logo organisasi di dinding perpustakaan mini: Rumah Biru.
Entah kenapa, setiap kali melihat logo itu, rasa lelahku sedikit reda.
Logo itu mungkin sederhana, tapi bagiku punya makna yang dalam. Dari sinilah semuanya dimulai — tempat yang awalnya terasa asing, tapi perlahan jadi rumah kedua.
Bertahan di organisasi ini memang capek.
Capek begadang buat rapat yang kadang tidak selesai-selesai, capek dengar kritik dari orang yang bahkan tidak mau bantu kerja, capek mengatur waktu antara kuliah, tugas, dan tanggung jawab di sini.
Sering sekali saya bertanya dalam hati, “Kenapa sih masih mau terus bertahan di sini?”
Kadang jawabannya tidak ada.
Kadang saya hanya diam, membiarkan rasa lelah itu mengendap sendiri.
Tapi setiap kali mau menyerah, saya selalu ingat awal mula saya bergabung.
Bagaimana dulu kami sama-sama bingung tapi semangat.
Bagaimana dulu kami saling bantu, saling marah, tapi juga saling tumbuh.
Dari organisasi inilah saya belajar arti kerja sama, arti sabar, dan arti rasa memiliki.
Malam itu, Ana tiba-tiba nyeletuk,
“Capek ya, tapi lucunya… kalau tidak ada rapat begini malah rindu.”
Kami semua ketawa kecil. Iya, capek, tapi nyatanya tidak bisa jauh-jauh juga.
Candaan kecil itu seperti menghapus penat sejenak. Nafisa menimpali sambil nyengir,
“Iya, rindu berdebat, rindu revisi, rindu deadline!”
Kami tertawa lagi. Kadang tawa sederhana seperti itu bisa jadi pengingat bahwa kami masih punya alasan untuk bertahan.
Saya baru sadar — ternyata ini yang disebut cinta.
Bukan cinta ke orang, tapi cinta ke tempat yang bikin kita belajar banyak hal.
Cinta ke orang-orang yang sama-sama berjuang di dalamnya.
Bertahan di organisasi bukan cuma soal tanggung jawab, tapi juga bentuk cinta: cinta yang diwujudkan lewat kerja keras, lewat waktu yang dikorbankan, lewat sabar yang terus dijaga.
Beberapa hari kemudian, rapat evaluasi kegiatan berlangsung.
Ruangannya penuh, tapi udaranya terasa panas — bukan karena cuaca, tapi karena suasana yang tegang.
Beberapa anggota mulai menyalahkan satu sama lain. Ada yang merasa usahanya tidak dihargai, ada yang kecewa karena merasa sendirian bekerja.
Saya hanya duduk, diam, mendengarkan.
Di satu sisi saya paham, semua orang lelah. Tapi di sisi lain, saya sedih — karena organisasi yang dulu penuh tawa kini dipenuhi nada tinggi dan wajah lelah.
Sampai akhirnya Defa bicara pelan tapi tegas,
“Kita ini bukan musuh, loh. Kita satu rumah. Kalau semua sibuk menyalahkan, kapan selesainya? Kalau capek, ya istirahat. Tapi jangan lupa, dulu kita semua di sini karena mau belajar dan tumbuh sama-sama.”
Ruangan mendadak hening.
Kata-katanya sederhana, tapi menampar.
Saya menunduk, menatap pena di tangan. Dalam hati saya mengulang kata itu — “Rumah.”
Iya, ini rumah kami. Dan rumah itu cuma bisa berdiri kalau penghuninya saling menjaga, bukan saling menjauh.
Selesai rapat, saya keluar dan duduk di tangga depan perpustakaan. Sore mulai larut.
Ana duduk di sebelah saya tanpa bicara apa-apa. Kami hanya diam, menikmati angin sore.
Beberapa menit kemudian, dia berucap lirih,
“Kamu pernah tidak, mau sekali berhenti, tapi ingat lagi kenapa dulu pas kamu mulai?”
Saya tersenyum kecil.
“Sering,” jawabku. “Kadang rasanya mau sekali rasanya lepas dari semua ini. Tapi tiap kali mau berhenti, saya selalu inget, kalau tanpa organisasi ini, saya tidak akan jadi saya yang sekarang.”
Ana mengangguk pelan. “Iya… saya juga. Capek sekali, tapi sayang sekali buat tinggalkan himpunan ini.”
Sore itu kami tertawa kecil, tapi ada air mata yang hampir jatuh.
Bukan karena sedih, tapi karena sadar — ternyata cinta ke sebuah tempat juga bisa membuat seseorang bertahan, bahkan di tengah tekanan yang berat.
Hari-hari berikutnya tidak serta merta jadi lebih mudah.
Masih ada kesalahpahaman, masih ada lelah, masih ada waktu di mana saya ingin benar-benar berhenti.
Tapi ada juga saat-saat kecil yang hangat:
tawa saat menyiapkan acara, candaan receh di tengah rapat panjang, atau sekadar makan gorengan di ruangan tempat rapat itu.
Semua itu jadi pengingat bahwa organisasi ini bukan sekadar nama dan struktur, tapi tempat di mana kami belajar menghargai proses.
Bahwa di balik semua tekanan, ada kasih yang tumbuh tanpa disadari.
Mungkin inilah yang disebut cinta yang tak terlihat — cinta yang tidak diucapkan, tapi terasa dalam setiap tindakan kecil:
menyapu ruangan setelah rapat, mengedit proposal sampai sore, atau datang paling awal saat kegiatan dimulai.
Cinta yang tidak butuh pengakuan, tapi nyata lewat komitmen.
Dan sekarang, setiap kali saya berada perpustakaan mini itu, saya selalu berhenti sejenak.
Melihat logo Rumah Biru yang sedikit pudar tapi masih berdiri tegak di dinding.
Logo itu seperti mengingatkan saya,
bahwa bertahan memang capek, tapi dengan bertahan, kita menunjukkan rasa cinta yang paling tulus — cinta yang tidak selalu manis, tapi nyata dan bertumbuh.
Besok pagi mungkin kami akan disibukkan lagi dengan deadline, revisi, dan evaluasi yang panjang.
Tapi malam ini, di tengah tumpukan kertas, rasa lelah, dan cerita yang tak selalu mudah, saya tahu satu hal:
Saya bertahan bukan karena harus,
tapi karena saya cinta.
Dan mungkin, itulah alasan kenapa bertahan — meski capek, meski penuh tekanan — tetap terasa berharga.
Karena di balik semua itu, ada cinta yang membuat kami tetap pulang ke tempat yang sama: Rumah Biru.







