Oleh : Nabila Aprila
Wartawan
Di sudut sunyi,ia tegak bergeming,
Bukan tak acuh,namun hati mengamati.
Setiap gerak,tiap pandang yang mampir,
Di catat benaknya dalam buku tersendiri.
Lisan terkunci,kata kata tak terucap,
Namun benak melukis semesta yang nampak.
Mata teduhnya adalah jendela dunia,
Menyelami makna di balik keramaian.
Peka membaca bahasa tubuh dan jiwa,
Mengerti sunyi di tengah perbincangan.
Ia memahami tanpa harus bersuara,
Lekat mengakar pada getar suasana.
Sabar membungkus gejolak di dada,
Setia menanti badai itu berlalu.
Senyum tipisnya perisai bagi lara,
Menahan gelagak amarah yang menderu.
Namun,ada saat raga hampir meledak,
Ingin menjerit,namun bibir terkatup rapat.
Topeng ketenangan tak pernah retak,
Menyimpan bara yang perlahan membakar.
Andai ia bisa,kan di lepas jejak,
Rasa sesak yang terpendam dan memudar.
Kadang ia ingin Guntur menggelegar,
Agar semesta tahu beban yang di pikul tegar.
Namun, di palung hati bersarang damai,
Tak sanggup iya memahat luka di wajah.
Setiap silap,setiap khilaf yang lalai,
Di terima jua tanpa dendam dan gugah.
Kemarahan itu menjadi hening,
Sebab maaf jauh lebih berkilau bening.
Ia adalah sungai yang mengalir tenang,
Meski di dasar menyimpan batu karang.
Setia pada sunyi,hatinya lapang,
Pemaaf sejati,tak pernah berperang.
Ia diam,ia lihat,ia rasa,lalu lupa,
Hanya cinta yang abadi di sana.







