Nama: Ahmad Juno Diansyah
Wartawan Magang
Di sebuah negeri tanpa telinga,
angin bicara pada tembok-tembok bisu,
dan suara rakyat hanya menjadi
gema yang tersesat di lorong-lorong sunyi.
Para penguasa menanak keputusan
dengan panci kedap keluhan,
sementara luka-luka yang berteriak
ditampung dalam mangkuk kesabaran.
Anak-anak tumbuh tanpa tahu
apa itu didengar:
mereka hanya belajar membaca bibir hujan
dan bahasa isyarat dari awan yang gelisah.
Di negeri tanpa telinga,
kebenaran berjalan terpincang-pincang
karena setiap langkahnya
tak pernah ditanggapi tanah.
Namun dari dasar kesunyian,
ada satu suara kecil yang menolak padam ia mengetuk langit, memecah diam, dan mengajari negeri itu
bahwa mendengar adalah nafas
dari keadilan yang masih mungkin.







