Home CERPEN Pecahan Keluarga, Tumbuh Bersama Ayah

Pecahan Keluarga, Tumbuh Bersama Ayah

109
0

Oleh: Firdania Ranti
Wartawan Magang

Latar belakang Athalia adalah sebuah rumah tangga yang hancur. Trauma itu bermula saat usianya baru empat tahun. Di hadapan matanya, kedua orang tuanya bertengkar hebat. Teriakan kasar dan keras yang saling dilemparkan membuat Athalia kecil bertanya-tanya, “Apakah aku dibuang?”

Tangis Athalia yang pecah membuat pandangannya kabur, hanya siluet buram ayah dan ibunya yang saling membentak, sementara kata-kata tajam mereka menusuk telinganya tanpa ia mengerti artinya. Rentetan pertanyaan membingungkan itu berputar di benaknya, Kenapa ini terjadi? Kenapa kami pindah rumah? Siapa yang salah? Ada apa dengan Ayah dan Ibu? Bukankah kita keluarga? Ketakutan Athalia membuatnya memilih memendam semua itu sendirian.

Keluarga yang utuh itu hancur. Bersama ibunya, Athalia pindah ke rumah baru, membawa luka dan bayangan masa lalu. Segalanya terasa asing, sekolah baru, teman baru, lingkungan baru, dan yang paling terasa berbeda adalah perasaannya sendiri.

Beberapa bulan berlalu, kerinduan pada pelukan ayahnya semakin menyiksa. Athalia kecil hanya bisa menangis, merindu hingga tubuhnya demam. Dalam tangisnya, ia menanti jawaban dari ibunya. Hingga akhirnya, Athalia benar-benar kembali ke rumah lamanya, beradaptasi kembali dengan suasana yang familiar sekaligus penuh kenangan.

Ayahnya tak pernah absen menunjukkan kasih sayangnya. Walau disibukkan pekerjaan, ia selalu menyempatkan diri menjemput Athalia, selalu ada di sisinya. “Setiap perjuanganmu adalah pelajaran terbaik bagiku,” bisik Ayah suatu hari. “Jangan pernah merasa sendirian. Ayah di sini, ada anak perempuanmu yang kuat.”

Namun, traumanya tidak hilang begitu saja. Di sekolah barunya, Athalia menjadi pemalu dan takut. Kecemasannya mencapai titik di mana ia selalu menahan keinginan untuk ke toilet. Takut meminta izin pada guru karena khawatir diasingkan oleh teman-temannya, ia sering mengompol dan selalu pulang lebih awal. Beruntung, guru-guru di sana sangat memahami kondisinya.”Tidak apa-apa mengompol. Semua orang juga pernah salah,” kata sang guru dengan lembut sambil mengelus rambut Athalia. “Tapi kalau perutnya terasa ingin pipis, langsung bilang, ya? Bu guru tidak akan marah.”

Athalia mungkin lahir dari keluarga yang tidak utuh, tetapi itu tidak menghalanginya untuk mencari kasih sayang dan kebahagiaan. Ia belajar bangkit dari kesedihan, mencari kenyamanan, dan membangun kembali hidupnya. Menguatkan diri untuk mengungkapkan perasaan dan keinginan adalah langkah awal yang sangat penting menuju penyembuhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here