Home CERPEN Pintamu, Senjata Hidupku

Pintamu, Senjata Hidupku

103
0

Oleh : Nur Fahmi Ridhana
Wartawan Magang

Kala malam, seorang gadis bernama Aluna berdiam diri meratapi indahnya langit diselimuti awan. Semilir angin dingin menembus celah jendela, hingga mengibaskan tirai tipis yang menutupi rumahnya. Ia duduk sambil merasakan angin yang berbisik. Di keheningan itu, hatinya bergelayut pada sesuatu yang tak mampu diungkapkan. Ada pinta yang terpendam, namun tak dapat diutarakan. Pikiran-pikiran bergejolak menimbulkan kata tanya yang tak kunjung ada jawaban.

Aluna merenung, memikirkan jalan hidup yang terbentang di depan. Gelisah yang begitu mencekam, saat hati dan pikiran dihadapkan dengan dua pilihan. Rasa kebingungan pun mulai ia temukan, cobaan demi cobaan mulai berdatangan. Pikiran Aluna selalu dihantui rasa ketakutan dengan hal-hal baru yang akan ia dapatkan.

“Pilihan yang begitu berat, namun hal ini perlu ku pertimbangkan. Aku harus berusaha dengan apapun yang ku cita-citakan. Karena setiap mimpi yang besar membutuhkan pengorbanan yang besar. Dan aku yakin, setiap usaha tidak akan menghianati hasil,”. gumam Aluna.

“Apakah aku harus memilih, antara Pulau Bumi para Sultan atau Pulau Tanah para petualang?. Aku tak menjadikan Pulau Bumi para Sultan sebagai satu-satunya, dan aku juga tak menjadikan Pulau Tanah para Petualang sebagai pilihan kedua. Keduanya memiliki kesan masing-masing bagiku,” sambung Aluna.

Namun, dalam tanyanya tersimpan harapan dan keraguan. Harapan besar bagi Aluna adalah agar kedua orang tuanya mau menyetujui keinginan yang ia impikan. Walaupun bayangan keraguan akan selalu menjadi penghalang dalam satu impiannya. Aluna menyadari bahwa sesuatu yang ia inginkan tak semua akan ia dapatkan, tetapi ia percaya bahwa akan ada keindahan yang ia temukan.

Aluna sadar bahwa setiap proses yang ia lalui tak terlepas dari doa sang ibu dan ayah yang menjadi kekuatan yang tak terlihat, menjadi pelindung yang begitu kuat, hingga menjadi senjata hidup yang membimbing disetiap saat.

###
(Kilas Balik)

Sore itu, seorang gadis bernama Aluna duduk sembari membaca buku dan mempersiapkan dirinya untuk menghadapi ujian tes masuk perguruan tinggi. Semua anggota keluarga belum ada yang mengetahuinya. Namun, saat Aluna memilih menepi dari kebisingan, sang ibu seketika bertanya pada gadis kecilnya.

“Kamu ngapain nak?. Ibu perhatikan dari tadi kamu belajar terus… Memangnya akan ada perlomban yang diikuti?” tanya sang ibu.

“Tidak bu, tidak lama lagi aku harus mempersiapkan diri untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi. Kali ini aku hanya bisa berusaha bu, dan aku juga tidak akan berekpektasi lebih. Intinya usaha saja dulu, urusan diterima atau tidak, urusan belakang,” Ungkap Aluna.

“Iya insya allah diterima. Intinya selain usaha jangan lupa sertai juga dengan doa. Doa tanpa usaha sama dengan bohong, usaha tanpa doa sama dengan sombong,” lirih sang ibu.

Keesokan harinya, di pagi yang cerah sang ibu pergi ke rumah salah satu sanak saudara untuk membantu persiapan acara jamuan makan. Dan di hari itu pula Aluna sedang mengikuti tes masuk perguruan tinggi melalui jalur tes mandiri. Sekitar jam 08.30 ia bergegas menuju laptop untuk mengikuti ujian tersebut. Ia berusaha mengerjakan soal 100 nomor dengan waktu dua jam. Bagi Aluna hari itu adalah hari yang menegangkan dan tak akan ia lupakan. Setelah selesai mengerjakan soal tersebut, ia bergegas menyusul sang ibu di rumah kerabatnya. Sesampainya di sana, ia menceritakan semuanya kepada sang ibu.

“Bagaimana ujiannya nak?. Berapa nilai yang diperolah?.” tanya sang ibu.

“Alhamdulillah bu, susah. Tapi ya bisa dilalui, insya allah aku lolos bu. Kalau dilihat dari nilai sih ya bisa lah…” balas Aluna dengan penuh canda.

###
*(Menjelang hari pengumuman ujian)*

“Mungkin ini salah satu alasan mengapa Allah menakdirkan Pulau Tanah para Petualang menjadi bagian dari cerita hidupku, dan aku percaya ini bukanlah suatu kebetulan,” ucap Aluna.

Ketika Aluna baru akan memulai satu langkahnya menuju perguruan tinggi, sang ibu selalu sigap merelakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk selalu menjadi garda terdepan dalam setiap proses perjalanannya, dengan menjadikan pinta sebagai senjata terbaiknya. Puasa dan doa menjadi senjata yang menemani hari-harinya.

“Ibu tidak bisa bantu apa-apa nak, ibu hanya bisa bantu doa saja. Sisanya kamu yang perlu berusaha,” ucap sang ibu sambil tersenyum.

“Mimpi yang tinggi untuk kuliah dimana pun boleh saja nak, asalkan ingat tujuan akhir dari kuliah bukan itu. Tetapi setelah kuliah apa yang bisa kamu berikan pada orang disekitarmu dan setelah kuliah kamu akan jadi apa kedepannya,” sambung sang Ayah.

Setelah itu Aluna pun berusaha untuk meredam egonya, memilih mengalah demi kebaikan dan memilih pergi untuk merenung memikirkan kembali perkataan sang ayah. Walaupun dalam langkahnya, berbalut kesedihan dan kekecewaan yang ia selimuti di balik senyuman. Kesedihan itu berlangsung lumayan lama, karena Aluna berpikir bahwa ia telah mendaftar di salah satu kampus di Pulau Bumi para Sultan dan kartu ujiannya pun telah ia dapatkan, hanya saja banyak hal yang perlu ia pertimbangkan. Dan pada akhirnya, ia memilih meninggalkan rencana awal yang telah ia simpan dalam benak dan kini telah menjadi bayangkan yang redup, bak cahaya yang pernah bersinar.

Hingga pada akhirnya, singkat cerita hari yang dinanti-nanti Aluna pun tiba. Dan semua anggota keluarga tak sabar menunggu hasil pengumuman. Akhirnya beberapa hari berlalu setelah tes ujian masuk Perguruan tinggi, Aluna pun merasakan perasakan yang tak biasa. Rasa takut, exaited, senang, sedih dan sebagainya bercampur aduk karena menunggu pengumuman tersebut.

Pada tanggal tiga Juli 2025 di jam 17.52 hasil tes pengumuman masuk perguruan tinggi pun keluar. Saat Aluna mencoba membuka link perndaftaran, tak disangka ia lolos. Seketika suasana berubah menjadi haru, wajah sang ibu menjadi sedih bercampur bahagia. Sang ibu tak kuasa menahan tangis dan langsung sigap memeluk gadis kecilnya.

“Alhamdulillah nak, Allah mengizinkan kamu lolos. Setelah ini jangan lupa selalu giat belajar, ibadah, dan berdoa karena ini baru awal dari hidupmu di dunia perkuliahan, dan jangan khawatir doa ibu selalu ada disetiap langkahmu” harap sang ibu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here