Home CERPEN Roti dan Gelapnya Malam

Roti dan Gelapnya Malam

25
0

Oleh : Muhammad Gibran
Wartawan Magang

Di sebuah kota yang sibuk, tempat orang selalu berjalan cepat tanpa peduli satu sama lain, hidup dua orang yang sering dijadikan bahan hinaan: Lira dan Nandu.

Lira adalah perempuan berusia dua puluh tiga tahun. Ia bekerja sebagai pelacur bukan karena keinginan, akan tetapi karena tidak ada pilihan lain. Ayahnya meninggal, ibunya sakit, dan ia harus membayar biaya obat ibunya yang semakin mahal. Ia sudah mencoba melamar kerja di banyak tempat, dari kasir sampai buruh gudang, tapi selalu ditolak. Entah karena pendidikan rendah, entah karena penampilan yang dianggap “tidak memenuhi standar.”

Malam adalah waktu ketika Lira berdiri di pinggir jalan, mengenakan pakaian yang membuatnya disamaratakan dengan julukan “BINATANG.” Orang yang lewat melihatnya seperti melihat sampah masyarakat. Padahal mereka tidak tahu, setiap malam sebelum berangkat, Lira menangis sebentar di kamar kontrakannya yang sempit.

Tidak jauh dari tempat Lira biasa berdiri, ada gang kecil yang jarang orang lihat. Di sanalah Nandu tinggal bersama adiknya, Sisi, yang masih berumur lima tahun. Rumah mereka hanya berupa bangunan yang sudah reyot dan seperti mau roboh. Orang tua mereka pergi entah kemana, mereka tidak pernah lagi kembali. Nandu, yang baru berusia sembilan tahun, harus mencari makan sendiri. Tidak ada bantuan, tidak ada keluarga yang peduli dengannya.

Untuk bertahan hidup, Nandu mencuri. Bukan barang berharga, hanya sebuah roti atau pisang. Itu pun ia sering dikejar dan dipukul pemilik warung. Namun ia tetap melakukannya, karena tidak ada cara lain agar ia dan Sisi bisa makan.

Suatu malam, setelah berhasil mencuri roti, Nandu duduk di bawah lampu jalan, menahan rasa takut. Ia makan dengan lahap dan sangat cepat, seperti seseorang yang siap kabur kapan saja. Lira yang sedang berjalan pulang melihatnya.

“Kamu sendirian?” tanya Lira.

Nandu mengangguk. Ia tidak berani menatap lama-lama.

“Kamu lapar?”
“Iya,” jawabnya pelan. “Aku cuma ambil roti… sedikit.”

Lira duduk di sampingnya tanpa banyak tanya.
“Kakak juga sering lapar,” katanya. “Bedanya, lapar Kakak bukan soal perut.”

Nandu tidak mengerti, tapi ia merasa Lira tidak berniat jahat. Ini pertama kalinya seseorang duduk di sebelahnya tanpa marah atau mengusirnya.

Beberapa menit berlalu sebelum Nandu berkata,
“Orang bilang Kakak jelek… bukan wajahnya, tapi pekerjaannya.”

Lira tersenyum miris. “Sudah biasa. Orang-orang suka menghina meski tidak tahu apa-apa.”

“Aku juga dibilang pencuri jahat,” kata Nandu. “Padahal aku cuma lapar dan mau makan.”

“Karena mereka tidak pernah merasakan hidup kita dek…” jawab Lira.

Percakapan itu singkat, sederhana, tapi bagi keduanya terasa seperti pertama kalinya mereka dimengerti.

Keesokan harinya, ketika Lira mengantar Nandu pulang sampai di ujung gang, seorang ibu-ibu berpenampilan rapi lewat dan langsung memicingkan mata.

“Ih, lihat itu. Pelacur sama maling kecil jalan bareng. Kota ini makin rusak aja,” katanya keras-keras.

Nandu menunduk, malu sekaligus marah.
Lira menarik napas panjang. Ia sudah terlalu sering dicaci, tapi tetap saja menyakitkan.

“Sudahlah,” kata Lira sambil menepuk bahu Nandu. “Biarin aja, mereka hanya bisa ngomong, tapi mereka tidak pernah tahu rasanya hidup susah.”

Hari-hari berikutnya, mereka sering bertemu. Kadang hanya saling menyapa. Kadang duduk sebentar. Kadang Lira membawakan sisa makanan dari orang yang memberinya tip. Nandu pun mulai merasa ada seseorang yang peduli kepadanya selain adik kecilnya.

Sementara Lira mulai menyadari bahwa dirinya tidak sepenuhnya sendirian dalam dunia yang keras ini. Ia melihat dirinya kembali di cermin, bukan hanya sebagai perempuan yang bekerja di dunia malam, tapi seseorang yang masih mempunyai hati dan empati.

Kota tidak berubah. Banyak orang mencelanya, padahal mereka tidak tahu alasan seseorang sedang berada di titik terendah tersebut. Namun bagi Lira dan Nandu, sedikit pengertian sudah cukup untuk membuat hidup yang pahit ini terasa bisa untuk dijalani.

Dua orang yang sering dihina, sering dilihat sebagai sampah, padahal mereka hanya berusaha bertahan hidup di dunia yang tidak pernah ramah sejak awal kepada mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here