Home CERPEN Ikhlas di Ujung Harapan

Ikhlas di Ujung Harapan

33
0

Oleh: Nurul Azmi Az Zahrah
Wartawan Magang

Langit sore selalu membawa bayangan yang sama bagi Raya—bayangan seseorang yang pernah ia jaga terlalu erat. Ia tahu, menyimpan harapan pada satu nama saja adalah pilihan yang berat, tapi saat itu ia merasa tidak punya siapa-siapa lagi selain dia. Maka ia menjadikannya jangkar, tumpuan, dan pelarian dari sepi yang tak pernah selesai.

Namun hidup punya cara aneh memisahkan dua orang yang saling berharap. Bukan karena hilang rasa, tapi karena keadaan memaksa berhenti. Sejak saat itu, Raya membawa luka yang tidak tampak, hanya terasa seperti beban tipis di dada yang terus menempel.

Suatu hari, saat ia duduk sendiri di taman , ia sadar: melupakan bukan soal menghapus, tapi melepaskan harapan yang menggantung. “Aku harus mencari ikhlas itu,” gumamnya. Kata ‘ikhlas’ terdengar sederhana, tapi ia belum pernah benar-benar memahaminya.

Perjalanannya dimulai dari langkah kecil. Ia berhenti membuka pesan lama, berhenti menunggu nama itu muncul, berhenti mengulang-ulang kata “andai.” Setiap hari terasa seperti menarik duri yang sama, pelan tapi menyakitkan. Ada hari ia kuat, ada hari ia kembali rapuh. Tidak pernah lurus, tapi selalu maju sedikit.

Sampai suatu malam, ia menulis sebuah kalimat di buku catatannya: “Aku berhak bahagia tanpa seseorang yang tidak lagi ditakdirkan untuk tinggal.” Saat membaca ulang kalimat itu, ia merasa ada sesuatu yang berubah ringan, kecil, tapi nyata.

Ikhlas itu ternyata bukan datang dalam satu momen besar. Ia datang dari potongan-potongan kecil, dari menerima bahwa yang hilang memang harus pergi, dari memahami bahwa harapan bukan hanya satu, dan dari memaafkan dirinya sendiri karena pernah terlalu menggantungkan suatu harapan pada seseorang.

Suatu pagi, setelah hujan reda, Raya menatap jalanan basah dan tersenyum. Bukan karena ia sudah sepenuhnya melupakan, tapi karena ia sudah tidak lagi ingin kembali. Orang itu akan selalu menjadi bagian dari ceritanya, tapi bukan lagi pusat dari langkahnya.

Dalam perjalanan itu, meski panjang, akhirnya membawanya pulang. Raya mulai menjalani hari-harinya dengan tenang, tapi sesekali kenangan masih datang tanpa permisi. Saat sedang menyeduh teh, saat mendengar lagu tertentu, atau saat melihat seseorang tersenyum dengan cara yang mirip. Ia tidak lagi menangis, tapi dadanya masih menghangat dengan rasa yang sulit dijelaskan bukan cinta, bukan sedih, hanyalah jejak.

Pada akhir pekan, Raya memutuskan berjalan ke taman kota. Ia duduk di bangku kayu, menatap anak-anak berlarian mengejar layangan. Angin sore membawa aroma rumput basah, dan ia bertanya pada dirinya sendiri, “Kenapa aku begitu lama menggantungkan perasaanku pada satu orang?”

Pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban. Ia tahu, dulu ia hanya ingin merasa aman. Ia ingin percaya bahwa ada seseorang yang akan selalu tinggal. Tapi hidup mengajarinya bahwa tidak semua yang kita genggam membuat kita bertahan, kadang justru itu yang membuat kita tidak bergerak.

Di taman itu, Raya bertemu seorang nenek yang sedang menonton cucunya bermain. Tanpa sengaja mereka berbincang. Nenek itu bercerita tentang masa mudanya, tentang orang yang pernah ia cintai tapi tidak menjadi jodohnya. “Kenangan itu tidak hilang,” kata sang nenek sambil tersenyum. “Tapi lama-lama, kenangan itu berhenti menyakitkan. Ia hanya menjadi bagian dari siapa kamu hari ini.”

Raya pulang dengan langkah lebih ringan, membawa kalimat itu seperti oleh-oleh kecil yang menenangkan. Ia sadar, mungkin yang ia butuhkan bukan melupakan, tapi berdamai.

pada suatu Malam ia menyalakan lampu meja, membuka halaman baru di buku catatannya, dan menulis:

“Ikhlas bukan kemenangan. Ia adalah kesediaan untuk tidak lagi memaksa takdir berjalan sesuai keinginanku.”

Saat menutup bukunya, Raya merasa seperti seseorang yang baru saja menurunkan ransel berat setelah perjalanan panjang. Ia belum sepenuhnya selesai, tapi ia tahu jalan pulangnya semakin jelas.

Beberapa minggu berlalu. Raya mulai menemukan hal-hal kecil yang membuatnya bahagia: mencoba resep baru, membaca buku yang dulu terabaikan, berbicara dengan teman lama, bahkan menikmati kesendirian tanpa merasa hampa. Ia belajar bahwa hatinya punya ruang lebih luas daripada yang ia kira.

Dan pada suatu hari, ketika ia berdiri di depan cermin, ia tersenyum pada dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya, senyum itu bukan untuk menutupi luka, tapi karena ia benar-benar merasa baik-baik saja.

Harapan terakhir yang dulu ia pegang kini hanya tinggal bayangan jauh masih ada, tapi tidak lagi menahan langkahnya.

Raya menatap langit terang di luar jendela dan bergumam pelan, “Ternyata, ikhlas bukan berhenti mencintai. Ikhlas adalah berhenti berharap pada sesuatu yang tidak lagi menuju padaku.”

Perjalanan itu belum berakhir, tapi ia tahu ia sudah menemukan apa yang selama ini ia cari, satu ikhlas yang akhirnya pulang ke hatinya sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here