Oleh: Ferdiansyah
Wartawan Magang
Senja tumpah di jendela, warna-warna duka, Bukan hanya jingga, tapi bias kenangan yang luka.
Sepi merayap, membawa dingin ke dalam dada, Ketika dunia bising, jiwa mencari jeda.
Di sudut meja, sebuah pelita kuno menyala, Bukan penerangan, tapi pemicu air mata.
Sebab, cahaya itu dulu hangatnya tangan Ibu, Yang menanti Ayah pulang, di bawah atap rindu.
Nyala pelita bergoyang, seolah berbisik perlahan, “Istirahatlah, Nak. Lelahmu adalah perjuangan.”
Kehangatan minyak tanah merasuk ke dalam jiwa, Membawa kembali damai masa-masa yang tiada.
Malam merangkak naik, bayangan kita membesar, Di sini, di bawah cahayanya, hati mulai benar.
Terharu melihat betapa kecilnya api ini berani, Menjaga mimpi dan harap, dari sunyi yang mematikan diri.
Ini bukan sekadar terang, ini adalah Pangkuan, Tempat air mata jatuh tanpa perlu keraguan.
Di bawah sinarnya, segala sesal terasa dimaafkan, Pelita kecil, lentera hati yang tak pernah dipadamkan.
Ia mengajarkan: Bahkan dalam gelap yang pekat, Cinta dan kerinduan adalah cahaya yang terkuat.
Duduklah di sini, biarkan haru membasuh bebanmu, Kau tak sendiri, karena Pelita Rindu menjagamu.







