Oleh: Nur Fatia
Wartawan LPM Qalamun
Di bumi yang luas ini bertemu denganmu adalah hal yang paling kusyukuri. Sepanjang hidup kau mengajarkanku bahwa mengasihi tak selamanya harus memiliki. Terkadang cukup hati saja yang tahu sejauh mana aku mencintaimu. Perihal berakhir denganmu atau tidak, biar semesta yang mengatur bagaimana baiknya.
Sama kamu adalah bagian yang paling menyenangkan, tapi sayang cuma sebentar. Ada satu chapter yang aku benci dari pertemuan kita, yaitu chapter perpisahan. Di mana kita harus melepaskan satu sama lain. Kau lebih kekal dari kata selamanya di dalam doa, dengan cara paling rahasia, kala aku berbincang dengan semesta.
Maaf karena masih merindukanmu, karena memang pada dasarnya berpisah denganmu tiada dalam rencana hidupku. Aku kira kita akan bersama lebih lama, tapi ternyata semesta punya rencana yang berbeda. Meski begitu, semua yang kita lewati tetap jadi kenangan paling indah di hatiku.
Betul kata orang bilang “Terkadang keputusan yang diambil dengan buru-buru bisa menjadi penyesalan terbesar dalam hidup”. Dan itu yang kualami sekarang. Walaupun akhirnya kita tidak jadi satu, aku pernah jadi seseorang yang sangat bahagia karena kehadiranmu.
Walaupun akhirnya bahagiamu bukan dengan diriku, aku akan tetap di sini dan tersenyum melihat setiap prosesmu. Walaupun bukan aku yang di sampingmu, aku tetap berharap kamu baik-baik saja di jalanmu. Semoga semua doa baikku sampai padamu.
Jika memang bukan kamu akhirnya, aku sangat bersyukur pernah bertemu kamu walaupun sesingkat itu. Rasanya seperti dalam makna lagu In Love with Another Man: seorang wanita yang ingin melupakan pria yang dicintainya tetapi menemukan bahwa itu sangat sulit. Aku kini benar-benar mengerti lirik itu.
Aku sudah berusaha mengikhlaskanmu, walau tidak mudah. Kadang aku merasa aku paham kamu, tapi sebenarnya kita memang tidak akan pernah benar-benar saling mengerti. Gausah diperbaiki lagi, kamu tidak bakal ngerti aku, aku juga tidak bakal ngerti kamu. Let you be happy, bro.
Dan kau lebih kekal dari kata selamanya di dalam doa. Dengan cara paling rahasia, kala aku berbincang dengan semesta, aku menyebutmu. Kamu tidak hanya abadi dalam karyaku, kamu juga abadi dalam hatiku. Namamu tersimpan di tempat yang tak terjangkau waktu.
Terima kasih untuk cerita singkatnya itu ya. Aku bahagia pernah jadi bagian kecil dalam hidupmu, meski sebentar. Happy for you, my first experience. Semoga di mana pun kamu berada, kamu menemukan kebahagiaanmu sendiri.
Aku akan terus melanjutkan hidupku dengan semua pelajaran dari kita. Meski hatiku masih menyisakan rindu, aku percaya waktu dan doa akan merawatnya. Aku ingin mengingatmu sebagai sesuatu yang indah, bukan luka. Karena bagiku, kamu tetap “Dia Abadi.”







