Home CERPEN Lorong Tanpa Akhir

Lorong Tanpa Akhir

51
0

Oleh: Ridah
Wartawan LPM Qalamun

Aurora membuka mata perlahan. Bau lembap dan udara dingin menusuk hidungnya. Ia berada di sebuah ruangan gelap, dindingnya terbuat dari batu kasar yang meneteskan air. Satu-satunya cahaya datang dari lampu minyak yang berkedip, menciptakan bayangan yang menari liar di dinding.

Ia tidak ingat bagaimana bisa sampai di sini. Teleponnya hilang, tasnya lenyap, bahkan sepatu yang ia kenakan terasa asing. Saat mencoba berdiri, Aurora mendengar suara langkah—perlahan, berat, seolah seseorang berjalan di lorong sempit di luar. Ia mendekati pintu, menempelkan telinga, tapi lorong itu hening.

Tiba-tiba, sebuah bisikan terdengar:
“Aurora… kau akhirnya bangun.”

Jantungnya berdegup kencang. Ia menoleh, tapi ruangan itu kosong. Bayangan dari lampu minyak tampak bergerak sendiri, seakan membentuk sosok samar yang menatapnya. Aurora merasakan bulu kuduknya meremang.

Ia memutuskan untuk mengeksplorasi. Lorong-lorong batu membingungkan, selalu tampak sama, tapi setiap langkah Aurora, pintu dan jendela yang ia lihat sebelumnya berubah atau hilang. Suara bisikan semakin sering terdengar, kadang seperti tawa, kadang seperti tangisan. Aurora mulai meragukan pikirannya sendiri.

Di ujung lorong, sebuah cermin tua menarik perhatiannya. Saat menatap ke dalamnya, Aurora tidak melihat wajahnya sendiri—melainkan seorang wanita dengan mata kosong dan senyum tipis yang sama persis seperti bayangan yang dilihatnya tadi. Ia tersentak, mundur, tapi lorong di belakangnya lenyap.

“Ini… bukan nyata,” bisik Aurora pada dirinya sendiri, tapi bisikan itu terdengar jauh, seolah datang dari lorong itu sendiri.

Ia mulai mendengar langkah yang mengikuti—tapi setiap kali ia menoleh, lorong kosong. Bayangan itu semakin dekat, dan Aurora merasakan kepanikan yang luar biasa. Ia menemukan sebuah buku tua di atas meja batu. Halaman pertama berisi nama-namanya sendiri… ditulis tangan rapi, tapi ada tanggal-tanggal yang belum terjadi.

Aurora membalik halaman, dan hatinya tercekat. Di halaman terakhir, tertulis:
“Aurora… kau akan selalu kembali ke sini.”

Ia merasakan dorongan kuat untuk menulis sesuatu di halaman itu. Tanpa sadar, tangannya menulis sendiri, kata demi kata: rahasia terdalam Aurora—ketakutan, kebohongan, dan kenangan yang selama ini ia sembunyikan. Lorong itu seperti menelan semua yang ia sembunyikan.

Saat Aurora menatap cermin sekali lagi, ia melihat dirinya—tapi kali ini ada dua sosok. Satu adalah Aurora yang sebenarnya, dan satu lagi adalah versi gelapnya yang tersenyum, menunggu untuk mengambil alih.

Aurora berlutut di lantai dingin, napasnya tersengal. Bayangan di cermin kini tampak lebih nyata daripada sebelumnya—versi dirinya yang lain, yang gelap, yang tersenyum dengan mata kosong, menatap seolah menilai setiap ketakutannya.

“Siapa… siapa kau?” bisik Aurora, suaranya nyaris hilang di lorong yang tak berujung.

Versi gelapnya itu melangkah keluar dari cermin, tapi tidak meninggalkan pantulan. Langkah itu berat, penuh kepastian, sementara Aurora merasa tubuhnya membeku.

“Kau sudah lama bersembunyi, Aurora,” suara itu serak, tapi familiar—suara Aurora sendiri. “Kau menutup mata dari semua yang kau takutkan. Aku… aku hanyalah apa yang kau sembunyikan.”

Aurora mencoba lari, tapi lorong berubah lagi. Setiap belokan membawa dirinya kembali ke ruang awal, ke lampu minyak yang berkedip, ke cermin itu. Tubuhnya lelah, pikirannya mulai retak.

Ia menyadari sesuatu yang menakutkan: bayangan itu bukan musuh luar, melainkan cerminan dari semua ketakutannya, semua kebohongan yang selama ini ia sembunyikan bahkan dari dirinya sendiri. Lorong ini… adalah pikirannya sendiri, dijebak dalam bentuk nyata.

“Kalau kau ingin bebas,” bisik versi gelapnya, “kau harus menghadapiku… dan menerima dirimu sepenuhnya.”

Aurora menatap cermin. Wajahnya—dan wajah bayangannya—bercampur. Semua rasa takut, semua penyesalan, semua rahasia yang ia sembunyikan terpantul di sana. Napasnya berat. Hatinya berteriak, tapi ia menutup mata, menarik napas panjang, dan berkata pelan:
“Aku… aku siap.”

Saat membuka mata, lorong berubah. Dinding batu mulai retak, cahaya lampu minyak meluas, tapi bayangan itu… menatapnya dengan penuh kepuasan. Aurora merasakan sesuatu mengalir melalui tubuhnya: ketenangan, penerimaan, tapi juga rasa kehilangan—seolah bagian dirinya sendiri tetap tertinggal di lorong itu.

Lorong itu menghilang perlahan, dan Aurora menemukan dirinya berdiri di luar hutan berkabut, di pagi yang dingin tapi nyata. Sepi. Sunyi. Bebas.

Tapi saat menoleh sekali lagi ke arah kabut, ia tersenyum pahit. Bayangan itu… masih menatapnya dari kegelapan, menunggu saat Aurora lupa diri lagi.

Aurora tahu satu hal:
Ketakutan terbesar tidak datang dari luar… tapi dari dalam diri sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here