Home PUISI Ibu, Jarak dan Sunyi

Ibu, Jarak dan Sunyi

35
0

Oleh : Ahmad Fauzi
Jurusan : Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Wartawan LPM Qalamun

Di rumah yang sama
ibu duduk memeluk waktu,
yang berjalan lebih pelan
dari detak jam di dinding tua.
Pagi menyapanya tanpa suara,
hanya cangkir teh yang mulai dingin
menjadi saksi pertama kesunyian.

Ia pernah sibuk menambal hari
menjahitkan sabar pada luka kecil
menyimpan letih di balik senyum
agar dunia tampak baik-baik saja.
Kini, anak-anak tumbuh menjadi jarak,
dan ibu belajar berbincang
dengan sunyi yang setia menemaninya.

Langkahnya ringan,
namun bayangannya panjang
menyusuri lorong ingatan
tentang tawa yang dulu berjejal di meja makan.
Ia tidak mengeluh,
sebab cinta baginya bukan kata,
melainkan kebiasaan memberi tanpa kembali.

Yang seharusnya banyak mengeluh adalah ibu.
ditinggal kerja oleh bapak,
ditinggal keluar rumah oleh anak,
yang lebih sedihnya, dia hanya berteman dengan dapur dan cucian yang menumpuk.
tapi ibu tidak mengeluh, bahkan doa untuk anaknya lebih berlimpah dari doa untuk dirinya sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here