Home PUISI Rumah yang Tak Lagi Pulang

Rumah yang Tak Lagi Pulang

114
0

Oleh : Haura hafidzah
Prodi : Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Wartawan LPM Qalamun

Rumah itu masih berdiri,
tapi tak lagi memelukku.
Dindingnya bisu,
lantainya dingin tanpa jejak tawa
yang dulu berlarian tanpa takut esok.

Di sana pernah ada pagi
yang berbau kopi dan doa,
ada suara langkah pulang
yang selalu kutunggu dengan harap.
Sekarang, jam dinding hanya berdetak
menghitung rindu yang tak punya alamat.

Aku menyentuh pintunya
kenangan luruh dari ujung jari.
Di setiap sudut, ada aku yang dulu:
tertawa tanpa beban,
menangis tapi masih punya tempat kembali.

Namun rumah itu kini asing,
ia mengingatku,
tapi tak lagi menerimaku.
Seperti pelukan yang masih hangat
namun tak boleh lagi kudekap.

Yang hilang bukan bangunannya,
melainkan suara,
kehangatan,
dan orang-orang yang membuatnya bernama rumah.
Kini ia hanya tempat singgah ingatan
yang terlalu sakit untuk ditinggali.

Aku pergi membawa kenangan,
meninggalkan diriku yang pernah utuh.
Sebab ada rumah
yang paling menyedihkan bukan karena runtuh,
melainkan karena ia masih ada
namun tak lagi bisa kupulang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here