Home CERPEN Mimpi

Mimpi

17
0

Oleh: Ahmad Ikhlashul Amal
Jurusan: Pendidikan Bahasa Arab
Wartawan LPM Qalamun

Raka berlari di lapangan sekolah yang luas. Seragam putih-merahnya tampak bersih, sementara tas barunya tergantung rapi di punggung. Ketika bel masuk berbunyi, ia segera bergegas menuju kelas, duduk dengan tertib, lalu menyiapkan buku-bukunya. Di depan kelas, guru berdiri sambil tersenyum ramah.

“Raka, silakan bacakan karanganmu tentang cita-cita,” ujar sang guru.

Dengan penuh semangat, Raka berdiri. “Saya ingin menjadi seorang insinyur dan membangun gedung-gedung tinggi agar semua orang mengetahui bahwa anak pemulung juga dapat memiliki mimpi.”

Tepuk tangan teman-temannya bergema memenuhi ruangan. Wajah Raka berseri-seri, dadanya terasa hangat oleh rasa bangga.

Di tempat lain, Beni duduk di ruang tamu rumah yang sederhana, tetapi nyaman. Ibunya datang membawa sepiring nasi hangat, sementara ayahnya tersenyum seraya berkata, “Hari ini kamu tidak perlu ikut ke tempat pembuangan akhir. Fokuslah belajar.”

Beni tersenyum pelan. Ia memandangi sekeliling rumah yang utuh, bersih, dan jauh dari bau sampah. Di atas meja terdapat mobil-mobilan baru, bukan mainan rusak yang biasanya ia temukan di tumpukan sampah.

Pada hari itu, mereka berdua berjalan menyusuri jalanan kota. Gedung-gedung menjulang tinggi, lampu-lampu berwarna-warni menyala terang, dan orang-orang memandang mereka bukan dengan rasa iba, melainkan dengan penuh hormat. Mereka membeli es krim dan tertawa lepas, menikmati kebahagiaan sebagaimana anak-anak pada umumnya.

Namun, tiba-tiba suara klakson truk sampah terdengar nyaring. Bau busuk menusuk hidung. Suasana ceria itu seketika lenyap, tergantikan oleh teriakan para pemulung yang saling berebut.

Raka terbangun. Matanya perlahan terbuka, menatap langit yang kelabu. Tubuhnya terbaring di atas tikar lusuh, sementara atap gubuk bocor di beberapa bagian. Di sampingnya, Beni juga terjaga dan mengucek mata dengan wajah letih.

“Apa yang kamu impikan, Raka?” tanya Beni dengan suara pelan.

Raka menatap kosong ke arah gunungan sampah yang menjulang tinggi, lalu mengembuskan napas panjang. “Aku bermimpi bahwa kita tidak hidup di tempat ini.”

Keduanya terdiam. Angin sore berembus membawa aroma busuk yang tidak pernah benar-benar hilang. Dari kejauhan, cahaya kota tampak indah, tetapi terasa begitu jauh dari jangkauan.

Di pinggir tempat pembuangan akhir itu, mimpi mereka kembali terkubur bersama sisa-sisa harapan yang setiap hari mereka pungut dari tumpukan sampah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here