Home CERPEN Past Love Story

Past Love Story

65
0

Oleh: Nayla Faza Kamila
Jurusan: Hukum Keluarga
Wartawan LPM Qalamun

Mereka masih diliputi rasa bosan. Tidak ada hal menarik yang bisa dilakukan. Hingga akhirnya, Kaynara mengajak Zeline untuk berkunjung ke rumah Nadira. Ajakan itu muncul setelah Kaynara mendengar keluhan Zeline yang bergumam, “Aku benar-benar bosan.”

“Bagaimana kalau kita pergi ke rumah Nadira?” ujar Kaynara.

“Apakah kamu serius? Memangnya kita akan diizinkan kalau pergi berdua?” tanya Zeline sambil menoleh dengan ekspresi terkejut. Ini merupakan kunjungan keduanya ke rumah Nadira setelah delapan bulan lamanya, sejak kejadian bermain sepeda listrik di kompleks rumah Nadira.

“Pasti diizinkan,” jawab Kaynara dengan yakin.

“Baiklah, aku ikut. Tapi kamu yang harus meminta izin.”

“Tenang saja, kita sekalian akan diantar.”

“Baik.”

Mereka kemudian mendatangi ayah Kaynara untuk meminta izin sekaligus memohon agar diantar ke rumah Nadira. Saat memasuki gedung rumah sakit, mereka melihat ayah Kaynara sedang berbincang dengan anggota keluarga lainnya di luar ruangan. Kaynara dan Zeline pun menghampirinya.

“Ayah,” panggil Kaynara.

“Ada apa, Kaynara?” jawab ayahnya.

“Ayah, bolehkah aku pergi bermain ke rumah Nadira bersama Zeline?”

“Boleh, tetapi siapa yang mengantar? Ayah tidak mengizinkan jika kalian pergi menggunakan sepeda motor,” ucapnya tegas.

“Kalau begitu, Ayah saja yang mengantar.”

“Namun Ayah masih harus berada di rumah sakit cukup lama.”

“Tidak apa-apa, Ayah. Nanti jika kami ingin pulang, kami akan menghubungi Ayah melalui telepon.”

“Baiklah.”

Setelah memberi izin, ayah Kaynara masuk ke dalam untuk mengambil kunci mobil yang dititipkan kepada ibu Kaynara. Sementara itu, Zeline juga meminta izin kepada kedua orang tuanya. Setelah berpamitan kepada keluarga lainnya, mereka berjalan menuju area parkir dan masuk ke dalam mobil untuk meninggalkan kawasan rumah sakit.

Di Rumah Nadira

Mobil mereka memasuki kompleks perumahan Nadira. Setibanya di depan rumah, Kaynara dan Zeline turun dari mobil dan berpamitan kepada ayah Kaynara sebelum mobil itu kembali meninggalkan kompleks perumahan.

Mereka berdiri di depan pintu rumah Nadira, mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Seorang anak laki-laki muncul di ambang pintu. Ia adalah Langit Mahendra, adik bungsu Nadira.

“Langit, apakah Nadira ada di rumah?” tanya Kaynara.

“Ada. Nadira, Kaynara dan sepupunya datang!” teriak Langit ke arah kamar.

“Suruh mereka masuk,” terdengar suara Nadira dari dalam kamar.

“Silakan masuk. Dia ada di kamarnya,” ucap Langit.

Kaynara dan Zeline pun masuk ke dalam rumah. Saat melangkah, Zeline secara refleks melirik Arzan Putra Mahendra, adik tengah Nadira. Tatapan singkat itu membuatnya sedikit terdiam.

Mereka masuk ke kamar Nadira, dan Kaynara langsung membuka percakapan.

“Aku benar-benar bosan berada di rumah sakit,” keluh Kaynara.

“Mengapa kamu ikut ke rumah sakit?” tanya Nadira.

“Jika tidak diminta oleh Ibu, aku juga tidak ingin ikut. Namun aku merasa kasihan kepada nenekku,” jawab Kaynara.

“Kamu memang aneh,” gumam Nadira.

Percakapan mereka berubah menjadi perdebatan kecil seperti biasanya. Di sisi lain, Zeline hanya memperhatikan sambil mengeluarkan ponselnya. Ia membuka gim Free Fire dan masuk ke akunnya.

Beberapa menit kemudian, perdebatan itu berakhir. Kaynara dan Nadira kembali bercakap-cakap dengan santai. Tiba-tiba, Langit muncul di ambang pintu kamar.

“Bisakah suara kalian dikecilkan?” ucapnya dengan nada kesal.

“Ini kamar saya,” balas Nadira.

“Kalau ingin berisik, lebih baik ke luar rumah saja,” sahut Langit.

“Ada apa denganmu?” tanya Nadira.

“Kami sedang bermain gim. Suara kalian mengganggu konsentrasi,” jawab Langit dengan kesal.

“Sudahlah, jangan bertengkar terus,” sela Kaynara.

Tak lama kemudian, Arzan muncul dari balik pintu.

“Kalian berisik sekali,” ucapnya singkat.

Langit kemudian menyadari bahwa Zeline sangat fokus pada ponselnya.

“Hei, ayo bermain bersama!” seru Langit, membuat semua orang terkejut.

Kaynara baru menyadari bahwa Zeline sejak tadi sedang bermain gim. Setelah permainan selesai, Kaynara mengambil ponsel Zeline.

“Ayo kita bermain bersama,” ajaknya.

“Apa ID-mu?” tanya Langit.

“04792143,” jawab Kaynara.

“Sudah, aku tambahkan.”

“Aku juga mau ikut,” kata Nadira.

“Masuk saja,” balas Langit.

Di tengah suasana itu, perhatian Zeline kembali tertuju pada Arzan. Wajahnya bersih dan rapi, dengan sorot mata yang menenangkan. Saat itulah Zeline merasakan sesuatu yang berbeda, perasaan asing yang perlahan tumbuh dan menjadi cinta pertamanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here