Oleh: Nadjwa Nurul Awalia
Jurusan: Sejarah Peradaban Islam
Wartawan LPM Qalamun
Aku adalah seorang gadis yang tinggal di pesantren. Sebut saja Nana. Setiap hari, waktuku habis di antara tembok-tembok tinggi yang menjunjung disiplin.
Aku selalu bangun sebelum Subuh, bergegas mengambil air wudu dengan mata yang masih berat. Setelah itu, aku duduk bersila di masjid, menyimak lantunan ayat suci yang mengalir pelan dan menenangkan.
Di pesantren, waktu berjalan teratur, nyaris tanpa celah untuk mengeluh.
Aku dikenal sebagai gadis pendiam. Jarang bercerita tentang rindu yang kerap datang diam-diam, terutama ketika malam mulai lengang.
Setiap kali lelah, aku menuliskan sebuah nama di sudut buku, seolah sedang berbincang dengan seseorang yang berada jauh di sana.
Pesantren mengajarkanku tentang kesabaran, ketaatan, dan penerimaan. Namun, ada satu hal yang tak pernah benar-benar kupelajari: kehilangan.
Hari itu dimulai dengan perasaan yang berbeda dari biasanya. Aku baru saja merapikan kitab ketika seorang teman menghampiri dengan wajah ragu. Tak lama kemudian, seorang pengurus menyerahkan ponsel kepadaku. Ada satu panggilan dari rumah, sesuatu yang tak pernah terjadi pada jam seperti itu.
Suara di seberang terdengar patah-patah. Aku hanya menangkap satu kalimat yang membuat kakiku seketika lemas tak berdaya.
“Ibumu sudah berpulang.”
Dinding pesantren yang selama ini kukenal kokoh, mendadak terasa runtuh. Aku terduduk di serambi masjid, menatap lantai, berusaha menahan tangis yang mendesak untuk tumpah.
Hari itu, pesantren terasa terlalu luas sekaligus terlalu sempit. Doa-doa mengalir, tangan-tangan menepuk bahuku dengan lirih, tetapi hatiku tertinggal jauh di rumah, pada ibuku.
Saat itu juga aku diberi izin pulang. Tasku kukemas dengan gerakan kaku, seolah tubuhku bergerak tanpa jiwa.
Perjalanan pulang terasa begitu panjang. Setiap kilometer seakan menarik kenangan keluar dari dadaku. Aku teringat ibu yang selalu mengantarku ke pesantren, membenahi kerudungku, menyelipkan uang saku, lalu berpesan agar aku kuat dan sabar. Kini, aku pulang tanpa sambutannya.
Sesampainya di rumah, pintu terbuka tanpa suara. Tak ada ibu di dapur, tak ada panggilan namaku. Yang tersisa hanya bau tanah basah dan doa-doa yang masih menggantung di udara. Dengan langkah pelan, aku menuju ruang tengah dan melihat keranda tempat ibu terbaring untuk terakhir kalinya.
Aku berlutut. Tangisku pecah tanpa mampu kutahan. Di rumah itulah aku benar-benar memahami arti kehilangan.
Jika di pesantren aku belajar menahan, maka di rumah aku belajar melepaskan.
Sejak ibu berpulang, aku menyadari bahwa pesantren mengajarkanku tentang kesabaran, sedangkan rumah mengajarkanku tentang keikhlasan.
Di antara keduanya, aku belajar menjadi manusia yang terus melanjutkan hidup dengan rindu yang tak pernah benar-benar usai.
Aku belajar berdiri sendiri. Belajar menjadi kuat tanpa diminta. Belajar tersenyum meski air mata masih bergetar di pelupuk mata.
Dan aku tahu, suatu hari nanti, ketika rindu ini tak lagi terlalu menyakitkan, aku akan berkata dengan tenang,
“Ibu, aku baik-baik saja. Seperti yang selalu engkau inginkan.”







