Oleh: Aprilia Ayu Azhani
Jurusan: Hukum Keluarga
Wartawan LPM Qalamun
Perempuan itu duduk di sudut kamar, menatap layar ponsel yang tak lagi bergetar seperti dahulu. Nama itu masih sama, begitu pula fotonya. Namun, hatinya yang dulu mudah berdebar kini diam, seolah lupa bagaimana caranya merasa.
Ia pernah mencintai seseorang dengan sepenuh jiwa. Ia bertahan saat lelah, memaafkan ketika terluka, dan percaya bahwa cinta adalah kesabaran tanpa batas. Ia menunggu perubahan, menumpuk harapan, serta menenangkan diri setiap kali kecewa. Baginya, mencintai berarti tetap tinggal meski kerap disakiti.
Namun, waktu tidak selalu ramah kepada mereka yang setia. Perlahan, hatinya lelah. Bukan karena benci, melainkan karena terlalu sering dikecewakan. Terlalu lama berharap pada seseorang yang tak pernah benar-benar melihat perjuangannya.
Suatu hari, sebuah pesan darinya kembali datang. Namun, tak ada senyum yang merekah, tak ada rindu yang menyusup. Perempuan itu hanya menatap layar dengan tenang. Di sanalah ia sadar, cintanya tak hilang karena amarah, melainkan gugur satu per satu hingga akhirnya mati rasa.
Ketika hati berhenti merasa, ia memahami bahwa kebebasan adalah cara hatinya bertahan. Ia telah mencintai terlalu dalam, hingga perasaannya memilih diam agar tak terus terluka.
Ia pun pergi, tanpa tangis dan amarah. Pergi dengan membawa pelajaran paling sunyi, tidak semua yang disayangi pantas diperjuangkan tanpa henti. Dan untuk pertama kalinya, ia memilih dirinya sendiri.
Di antara sepi yang ia terima, hatinya memang tak lagi berdenyut untuk orang itu. Namun, di sanalah ia belajar bahwa berhenti mencintai seseorang bukanlah kekalahan, melainkan keberanian untuk menyelamatkan diri.
Ia mengenang masa lalu seperti membuka kotak tua yang berdebu. Ada tawa yang dahulu terasa hangat, juga janji-janji yang kini terdengar asing. Kenangan itu tak lagi menyakitkan, hanya terasa jauh, seperti kisah orang lain yang pernah singgah sebentar dalam hidupnya.
Pada titik itu, ia menyadari bahwa kehilangan tidak selalu berarti kehancuran. Ada kalanya kehilangan justru memberi ruang untuk bernapas. Ia tak lagi menyalahkan dirinya karena pernah bertahan terlalu lama, sebab mencintai sepenuh hati tak pernah menjadi kesalahan.
Hari-hari berlalu tanpa beban menunggu. Ia kembali mengenali dirinya, hal-hal kecil yang dulu terabaikan karena terlalu sibuk mencintai orang lain. Perlahan, ia belajar tersenyum tanpa alasan, tertawa tanpa rasa bersalah, dan pulang tanpa takut kecewa.
Kini, jika nama itu kembali muncul di layar ponsel, ia hanya menghela napas singkat. Tak ada dendam, tak pula rindu. Hanya penerimaan yang tenang, bahwa beberapa orang hadir bukan untuk dimiliki selamanya, melainkan untuk mengajarkan kapan harus melepaskan.







