Home CERPEN Selene

Selene

13
0

Oleh: Ahmad Juno Diansyah
Jurusan: Pengembangan Masyarakat Islam

Aku selalu mengingat hari ketika pertama kali menggenggam tanganmu. Ada rasa hangat yang tak mampu dijelaskan, seolah seluruh dunia berhenti bergerak hanya untuk memberi ruang bagi pertemuan kita. Kamu tertawa kecil saat aku salah mengucapkan namamu, dan sejak saat itu aku tahu: hidupku akan berubah.

Kita berjalan jauh, melewati banyak hal yang tak sempat kita hitung. Kita saling berbagi mimpi, saling menenangkan luka, dan saling menopang ketika dunia tak lagi ramah. Aku mencintaimu dengan cara yang paling sederhana: dengan hadir, dengan mendengar, dan dengan memikirkanmu lebih sering daripada apa pun yang pernah kupikirkan sebelumnya.

Namun, tidak semua kisah yang dimulai dengan kebahagiaan berakhir dengan cara yang sama.

Hari itu, matamu tak lagi seperti biasanya. Ada jarak yang tak mampu kujelaskan, seolah kau berdiri di sisi dunia yang tak dapat kucapai. Kamu tersenyum, tetapi aku tahu senyum itu tak lagi memelukku seperti dulu.

“Ada hal-hal yang harus kita lepaskan,” katamu pelan, “meskipun hati kita masih ingin menggenggam.”

Aku terdiam, berusaha memahami apa yang sebenarnya sedang kita hadapi. Kamu menjelaskan tentang tanggung jawab yang tak bisa kau tinggalkan, tentang masa depan yang tak lagi selaras dengan jalanku, dan tentang dunia yang tiba-tiba memaksa kita memilih arah yang berbeda.

Aku tidak menyalahkanmu. Bahkan ketika hatiku terasa seperti dirobek dari dalam, aku tahu keputusanmu bukan karena kau berhenti mencintaiku. Justru karena kau mencintaiku—dan juga mencintai hidupmu, keluargamu, serta pilihan-pilihan yang harus kamu ambil—meskipun itu berarti pergi dariku.

Pada titik itu, aku menyadari satu hal: cinta tidak selalu tentang mempertahankan. Terkadang, cinta adalah keberanian untuk menerima bahwa jalan kita memang tak lagi bertemu.

Aku menatapmu lama, berusaha merekam setiap detail wajahmu. Aku ingin mengingat segalanya tentangmu: cara kamu menyebut namaku, cara kamu tertawa, dan cara kamu memelukku seolah aku adalah rumah yang selama ini kamu cari.

“Kita akan baik-baik saja,” katamu, dengan suara yang nyaris patah.

Aku mengangguk, meskipun bagian terdalam diriku tahu bahwa “baik-baik saja” tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

Sore itu, kita berpisah. Tanpa drama, tanpa teriakan, tanpa saling menyalahkan. Hanya dua hati yang sama-sama berat, tetapi tetap memilih berjalan ke arah masing-masing, karena hidup memang tidak selalu mengizinkan kita untuk bersama.

Sejak saat itu, aku menjalani hari-hari tanpa pesanmu, tanpa suaramu, tanpa hadirmu. Rasanya seperti belajar berjalan kembali setelah lupa bagaimana caranya.

Namun, perlahan aku menemukan cara untuk berdiri lagi. Dan meskipun luka itu masih tinggal, aku tahu satu hal: aku pernah mencintaimu dengan seluruh yang aku miliki, dan kamu pun pernah melakukan hal yang sama.

Kita mungkin tidak lagi memiliki masa depan bersama, tetapi kita memiliki kenangan. Dan bagiku, itu sudah cukup untuk menyebutmu sebagai perempuan yang sangat aku cintai, meskipun pada akhirnya bukan perempuan yang bisa tetap tinggal.

Di antara semua kehilangan, ada satu hal yang tetap utuh:

Aku tidak menyesal pernah mencintaimu. Tidak sedikit pun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here