Oleh: Ahmad Alawi
Jurusan: Hukum Tata Negara
Pengurus Redaksional LPM Qalamun
Menilik delapan tahun ke belakang, aku baru saja menginjak usia tiga belas tahun, usia ketika aku memasuki masa SMP, lembaran pertama dari babak baru yang membawaku jauh dari rumah menuju tanah rantau.
Sang fajar muncul perlahan di ufuk timur, seakan memberi isyarat bahwa perjalanan baru itu benar-benar dimulai. Setelah barang-barang dikemas dan kesedihan yang sejak semalam kutahan perlahan mereda, kini hanya tersisa kepulan asap mobil di halaman rumah yang menjadi saksi keberangkatanku.
Bersama kedua orang tuaku yang setia mengiringi langkah, kami menuju tanah seberang, tepatnya di jantung Kota Malang.
Kota yang kusematkan sebagai babak baru dalam hidupku. Namun, sebelum benar-benar memulai perjalanan itu, tepat sepekan sebelumnya kedua orang tuaku mengajakku menyusuri sudut-sudut kota. Kami menikmati hari-hari terakhir bersama, menyelipkan tawa di antara langkah, seolah ingin menyimpan cukup kenangan sebelum jarak mengambil perannya.
Hari yang dinanti sekaligus ditakuti itu pun tiba.
Dengan sisa kehangatan jemari ibu dan rangkulan ayah yang terasa lebih erat dari biasanya, aku berjalan mengikuti ustadz yang menunjukkan jalan menuju kamar baruku. Lorong demi lorong kami lewati hingga akhirnya tiba di depan sebuah pintu yang kelak menjadi ruang pertumbuhanku.
Di dalam kamar itu, di sela-sela menata barang bawaan, suasana yang semula canggung perlahan mencair. Obrolan ringan mulai mengalir di antara para penghuni baru yang sama-sama datang dengan perasaan tak jauh berbeda dariku, perasaan gugup dan harap datang bersamaan.
Ketika suasana mulai terasa lebih hangat, sebelum kata pamit benar-benar menciptakan jarak antara aku dan kedua orang tuaku, sang ustaz kembali membuka percakapan. Ia memperkenalkan sosok senior yang kelak akan memimpin kamar kami sekaligus membimbing rutinitas yang perlahan akan kami jalani.
“Perkenalkan, ini Kak Lutfi, pemimpin kamar kalian. Beliau memegang amanah untuk menjaga ketertiban di sini,” tutur ustadz, memperkenalkan figur yang kini berdiri di hadapan kami.
Perkenalan itu menjadi penanda bahwa kehidupan baruku benar-benar dimulai. Tak lama setelah suasana terasa cukup akrab, ayah mengajak seluruh kawan sekamar untuk berfoto bersama. Sebuah potret sederhana, namun sarat makna penanda awal perjalanan kami di tempat ini.
Usai berfoto, waktu terasa berjalan lebih cepat dari yang kuinginkan.
Suasana yang semula ringan perlahan berubah menjadi haru. Kata pamit akhirnya terucap. Mereka memelukku erat, sebuah kehangatan yang ingin kusimpan lebih lama dari seharusnya. Aku melangkah perlahan di samping mereka, seolah ingin memanjangkan waktu sebelum gerbang itu benar-benar memisahkan kami.
Tak banyak kata terucap dari bibir mereka. Namun, dalam doa-doa yang tak terdengar, tersimpan harapan agar aku mampu menggapai cita-cita dengan mempelajari Al-Qur’an dan hadis Nabi. Karena mereka tahu, mungkin lewat kata pergi, akan selalu ada kata kembali.







