PALU, LPMQALAMUN.com – UIN Datokarama Palu mengajak mahasiswa asing dan peserta Datokarama International Short Course (DISC) 2026 mengunjungi sejumlah destinasi wisata di Kota Palu, Kamis (14/5/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengenalan budaya dan potensi daerah kepada peserta internasional.
Program DISC 2026 dilaksanakan melalui dua agenda utama, yakni sit-in class dan outing class. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada aktivitas akademik, tetapi juga menjadi sarana diplomasi budaya bagi peserta dari berbagai negara.
Ketua Panitia DISC 2026 sekaligus Kepala Pusat Hubungan Internasional Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Datokarama Palu, Dr. Darlis, Lc., M.S.I., mengatakan bahwa selama tujuh hari pelaksanaan, peserta mengunjungi sejumlah destinasi yang terbagi dalam beberapa kategori, seperti wisata sejarah dan budaya.
“Panitia penyelenggara telah melakukan berbagai upaya untuk memastikan kegiatan ini berjalan nyaman dan menyenangkan bagi seluruh peserta, dengan melibatkan banyak lembaga, termasuk enam fakultas di UIN Datokarama Palu,” ujarnya.
Ia menjelaskan, setiap fakultas menghadirkan aktivitas berbeda sehingga peserta memperoleh pengalaman yang beragam selama mengikuti program tersebut.
“Setiap fakultas memberikan warna tersendiri melalui berbagai aktivitas selama setengah hari agar peserta tidak merasa bosan,” tambahnya.
Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Souraja. Menurut Darlis, pemilihan lokasi tersebut bertujuan memperkenalkan kearifan lokal serta akar sejarah Kota Palu kepada peserta internasional.
Selain itu, peserta juga diajak mengunjungi sejumlah situs bencana alam, seperti kawasan likuefaksi, area terdampak tsunami, dan Masjid Terapung Palu. Dalam kunjungan tersebut, peserta disuguhkan berbagai penampilan budaya, mulai dari musik hingga tarian tradisional yang memperkenalkan kearifan lokal Sulawesi Tengah.
Darlis menuturkan, sejarah dan budaya di Indonesia, Thailand, Filipina, dan Malaysia memiliki banyak kesamaan nilai serta filosofi yang menunjukkan hubungan erat antarnegara di kawasan Asia Tenggara.
Ia berharap kegiatan wisata budaya tersebut dapat memperkuat kebersamaan dalam menjaga peninggalan sejarah dan merawat khazanah budaya yang diwariskan para pendahulu.
“Yang terpenting adalah bagaimana kita menjaga warisan peninggalan sejarah serta mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa masa lalu,” tuturnya.
Wartawan: Shihab







