PALU, LPMQALAMUN.com — Dalam upaya mendorong internasionalisasi kampus, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Datokarama Palu melalui Pusat Hubungan Internasional meluncurkan buku Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) berbasis kearifan lokal.
Buku yang diterbitkan oleh Asosiasi Pegiat dan Pencinta Bahasa Indonesia ini melibatkan sejumlah dosen UIN Datokarama Palu sebagai penulis dan tim penyusun. Kehadiran buku tersebut diproyeksikan menjadi rujukan utama dalam pelaksanaan program BIPA bagi mahasiswa asing yang dijadwalkan mulai berlangsung pada Juli mendatang.
Kepala Pusat Hubungan Internasional LP2M UIN Datokarama Palu, Dr. Darlis, Lc., M.S.I., menjelaskan bahwa program BIPA tidak hanya berfokus pada pembelajaran bahasa Indonesia, tetapi juga menjadi media pengenalan budaya lokal kepada mahasiswa asing.
“Salah satu keistimewaan buku ini adalah penyisipan unsur local wisdom Palu dalam materinya, seperti tradisi Balia dan konsep ‘tabe’ (permisi). Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga memahami budaya setempat,” ujarnya saat diwawancarai kru LPM Qalamun, Minggu (21/06/2026).
Ia menambahkan, tantangan utama dalam pelaksanaan program ini adalah penggunaan dua bahasa pengantar, yakni bahasa Inggris dan bahasa Arab, untuk memudahkan pemahaman mahasiswa asing.
Selain itu, keterbatasan durasi program yang hanya berlangsung sekitar dua hingga tiga bulan juga menjadi tantangan tersendiri. Untuk mengatasinya, pihak kampus menyiapkan sistem pembelajaran berkelanjutan, tidak hanya di dalam kelas, tetapi juga melalui program kebahasaan di asrama mahasiswa.
Di akhir wawancara, Darlis berharap program BIPA dapat memberikan dampak jangka panjang, baik bagi mahasiswa asing maupun institusi.
“Program ini diharapkan mampu membantu mahasiswa asing menguasai percakapan dasar bahasa Indonesia sekaligus memahami kearifan lokal Sulawesi Tengah,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa ke depan, bahasa Indonesia diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai instrumen diplomasi budaya di tingkat global.
Wartawan: Sitsyra, Qosiratuthorfi







