Nama: Moh. Syari Fadel
Jurusan: Ekonomi Syariah
Wartawan Magang LPM Qalamun
Kekerasan di lingkungan akademik selalu punya cara unik untuk tampil konyol sekaligus menyedihkan. Ketika sebuah tempat yang digadang-gadang sebagai wadah pembentukan karakter intelektual justru menjadi arena adu otot, ada yang keliru dalam cara kita memahami arti kehormatan. Merasa martabat sebuah tradisi terancam hanya karena dentang tawa adalah bentuk rapuhnya rasa percaya diri yang dibungkus dalih ketegasan.
Tradisi pendidikan yang diklaim sakral dan penuh nilai mendadak kehilangan bobotnya ketika begitu mudah goyah oleh hal sepele. Sebuah sistem yang matang seharusnya ditopang oleh kedewasaan para pengemban misinya, bukan oleh ego tipis yang mudah retak saat diterpa angin sepoi-sepoi. Jika kebanggaan kelompok begitu ringkih hingga harus ditegakkan dengan kepalan tangan, mungkin yang perlu diuji ulang adalah daya tahan mental para penjaga tradisi itu sendiri.
Menarik melihat bagaimana tawa bisa dianggap sebagai ancaman yang sangat menakutkan bagi sebagian kelompok. Di saat manusia dewasa belajar mengabaikan hal-hal yang tidak relevan, ada kelompok yang justru meresponsnya dengan tensi tinggi seolah dunia sedang runtuh. Respons berlebihan semacam ini menyiratkan betapa dalamnya rasa cemas akan harga diri, hingga reaksi refleks yang muncul bukanlah dialog yang mencerahkan, melainkan dorongan fisik yang dangkal.
Proses pendewasaan diri kerap terhambat ketika seseorang gagal membedakan mana kebanggaan sejati dan mana sekadar emosi mentah. Mengaku tidak berniat mencari masalah, tetapi mendatangi sumber suara dengan kepalan tangan, adalah sebuah kontradiksi yang menggelitik. Logika semacam ini ibarat menyiram bensin ke api kecil sambil berharap tidak ada ledakan, sebuah peragaan emosi yang jauh dari kata matang.
Gelar akademis dan atribut kemahasiswaan sejatinya adalah beban moral yang menuntut cara berpikir lebih beradab. Namun, ketika ruang-ruang kampus diwarnai tindakan yang mirip perebutan wilayah di jalanan, atribut-atribut indah itu sekadar menjadi kostum pelengkap. Sungguh pemandangan absurd ketika intelektualitas yang dipelajari setiap hari di dalam kelas mendadak menguap begitu saja saat berhadapan dengan gesekan sosial yang paling sederhana.
Sikap merasa paling benar dan menuntut penghormatan secara instan kerap menjadi jebakan bagi mereka yang haus pengakuan. Kehormatan sejati tidak pernah lahir dari intimidasi atau paksaan fisik, melainkan dari ketenangan sikap dan kedalaman berpikir. Ketika seseorang memilih cara-cara kasar untuk mendapatkan rasa hormat, ia justru sedang memperlihatkan betapa miskinnya kapasitas untuk dihormati secara sukarela.
Label “kesalahpahaman” juga kerap menjadi mantel hangat yang sangat nyaman untuk membungkus tindakan menyimpang agar terlihat wajar. Mengambinghitamkan miskomunikasi atas tindakan yang dilandasi emosi mentah adalah bentuk pengelakan tanggung jawab moral yang paling klise. Alih-alih mengakui keterbatasan kontrol diri, alasan kesalahpahaman selalu siap dipakai untuk memperhalus realitas yang sebenarnya cukup memprihatinkan.
Penyelesaian yang cepat memang memberi kesan ketenangan di permukaan, tetapi ia kerap meninggalkan pertanyaan besar tentang proses kedewasaan itu sendiri. Melupakan insiden begitu saja tanpa ada pemaknaan mendalam terhadap pola pikir yang salah hanya akan memelihara benih serupa di masa depan. Kedamaian yang dibangun di atas kompromi tanpa perbaikan kontrol emosi hanyalah jeda singkat sebelum emosi kekanak-kanakan lainnya meledak kembali.
Lingkungan kampus seharusnya menjadi tempat melatih kepekaan berpikir kritis dan toleransi terhadap perbedaan ekspresi di sekitarnya. Jika mendengar tawa orang lain saja sudah mampu menyulut emosi hingga lupa cara berkomunikasi yang baik, ada jarak yang sangat jauh antara status sebagai mahasiswa dan pemikiran yang matang. Kampus bukan tempat untuk mengoleksi otot yang keras, melainkan wadah mengasah logika agar tidak mudah tumpul oleh hal-hal sepele.
Pada akhirnya, peristiwa ini menjadi cermin jernih yang memperlihatkan siapa pribadi yang benar-benar siap berproses dan siapa yang hanya gemar memakai atribut gagah-gagahan. Menggunakan akal sehat dalam situasi panas adalah ujian sesungguhnya dari kualitas seorang terpelajar. Tanpa kemampuan mengendalikan ego dan emosi dasar, seseorang hanya sedang bermain peran sebagai mahasiswa, sementara tindakannya masih terjebak pada tingkatan yang sangat memprihatinkan.







