Oleh: Miftha Wahdania
Wartawan LPM Qalamun
Perihal jatuh cinta, sebenarnya aku tak berani menuliskan ini.
Memangnya siapa aku?
Aku, hanya insan yang tercipta—dilengkapi hati dan perasaan.
Itulah anugerah—yang katanya terindah dari Tuhan.
Mengenai perasaan ini, bahkan aku tak pernah merencanakannya.
Aku pernah membaca sebuah tulisan,
katanya, segala hal di dunia ini
sebelum terjadi padamu, semua sudah tertulis di coretan rencana Tuhan.
Sekilas, hal itu terasa mustahil.
Lalu aku kembali ingat, perasaanku padamu—yang begitu utuh dan tak pernah kurencanakan.
Terasa lancang jika aku menulis tentangmu di sini.
Bahkan jika aku nekat menulisnya.
Untuk apa?
Apa gunanya jika aku menuliskan tentangmu dalam baris ini,
jika pada akhirnya aku tak berlabuh padamu seutuhnya?
Namun, semua ini bukan soal apakah akhirnya bertuju padamu atau bukan,
melainkan tentang bagaimana aku bisa menjaga dirimu dari kejauhan.
Tanpa pesan-pesan yang katanya perlu diromantiskan.
Tanpa perlakuan yang harus ditunjukkan sebagai usaha.
Inilah jatuh cinta murni tanpa menodainya.
Aku memang seringkali menatap wajahmu begitu lama.
Tanpa kusadari, mataku mulai berkaca-kaca.
Bukan karena aku sedih karena tak bisa memilikimu sekarang,
tapi aku bangga dengan diriku—bisa menjaga diriku sendiri dan dirimu.
Jatuh cinta itu hal luar biasa yang tergantung pada diri seseorang.
Jatuh cinta bukanlah soal mengejarnya hingga berlari,
penuh rasa takut akan kemungkinan ia dimiliki orang lain,
atau sibuk mengirim pesan yang tak penting hanya agar tetap terlihat ada.
Itu bukan cinta—
melainkan hanya hawa nafsu yang ingin menggenggamnya dalam dosa.
Lagipula, melihat wajahnya tertawa sudah cukup.
Rambut hitamnya yang sering ia rapikan.
Tubuhnya yang jangkung dan sedikit kurus.
Berdiri gagah dengan percaya.
Begitu saja sudah membuatku jatuh cinta.







