Home PUISI Kamis, 31 Juli 2025

Kamis, 31 Juli 2025

172
0

Oleh: Muhammad Al-Fitrah
Wartawan LPM Qalamun

Pohon yang dulunya segar, kokoh—kini rapuh,
termakan usia. Pohon yang dulunya berdiri kokoh
di tengah pepohonan, kini lapuk karena usia.
Aku selalu mengingat betapa hebat pohon itu berdiri
di tengah hutan yang lebat; meski diterpa badai, ia tetap berdiri
tegap—walaupun badai dahsyat sedang menimpanya.

Aku selalu ingat ceritanya tentang beberapa badai yang ia lalui.
Aku selalu ingat ceritanya tentang betapa hebat ia melewati itu semua.
Aku selalu ingat ceritanya tentang betapa kuatnya ia menghadapi badai-badai tersebut.
Kini, cerita itu hanya dapat dikenang saja, karena pohon tersebut telah berdamai
dengan dunia ini. Pohon itu telah termakan oleh rayap yang menggerogoti dirinya.
Pohon itu telah menemui janjinya kepada Sang Maha Cipta.

Apakah pohon tersebut meninggalkan tunas baru?
Dan iya, pohon tersebut meninggalkan tunas-tunas yang hebat,
yang akan melalui semua badai yang dulu ia ceritakan.
Tunas-tunas itu dapat tumbuh melebihi pepohonan lain di sekitarnya,
bakal tumbuh lebih tinggi daripada pepohonan di hutan sana.
Tunas-tunas yang diajarkannya akan melalui itu semua.
Tunas-tunas yang selalu ia banggakan akan berdiri hebat,
melampaui semua tunas yang bersaing dengannya.

Beristirahatlah dengan tenang, “pohon” yang hebat—yang penuh petualangan.
Janganlah khawatir dengan tunas yang selalu kau risaukan.
Tunas ini akan berkembang lebih hebat daripada tunas-tunas yang sering kau ceritakan.
Tunas ini adalah tumbuhan yang istimewa,
yang akan menjadi payung dunia,
yang akan melindungi bumi dari bahaya dunia,
yang akan selalu menjadi garda terdepan menghadapi kejamnya dunia.

Untukmu, pohon terbaikku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here