Home CERPEN Pesan Terakhir

Pesan Terakhir

120
0

Oleh: Moh Lutfi
Wartawan LPM Qalamun

Adit duduk di sudut kamarnya, menatap layar ponsel yang gelap dan samar. Notifikasi media sosial masih berdering, tapi kali ini ia tidak punya tenaga untuk membukanya.

Seminggu lalu, sahabatnya, Denis, masih aktif mengirim pesan tentang apa yang ia rasakan. Denis sering curhat di statusnya—tentang lelah sekolah, pertengkaran di rumah, dan rasa sepinya. Namun, Adit sering menganggap itu hanya keluhan biasa. Kadang ia hanya memberi tanda “like”, tanpa benar-benar membaca atau merespon.

Hingga suatu malam, Denis mengirim pesan:
“Tolongin Dit, capek sekali rasanya. Kayaknya aku sudah tidak kuat lagi.”

Adit membacanya, tapi tidak langsung membalas. Ia pikir Denis hanya butuh perhatian kecil, dan besok juga akan baik-baik saja. Ia menunda balasan karena sibuk menonton drama di ponselnya.

Keesokan harinya, kabar duka datang. Denis ditemukan tak sadarkan diri di kamarnya. Pesan itu ternyata benar-benar pesan terakhirnya.

Kini, setiap kali Adit membuka media sosial, dadanya terasa sesak. Hatinya tidak karuan. Setiap status lama Denis yang dulu penuh isyarat, kini menjadi pengingat pahit tentang penyesalan. Media sosial yang dulu terasa riuh kini terasa sepi, dipenuhi bayangan kegagalan dan rasa bersalah.

Adit akhirnya menghapus banyak aplikasinya. Ia belajar bahwa di balik layar, seseorang bisa berteriak tanpa suara. Sentuhan jari kecil—sekadar membalas pesan—kadang bisa menyelamatkan nyawa.

Sejak kejadian itu, Adit sering termenung di sudut kamarnya. Ia mulai menulis catatan di buku harian, tentang hal-hal yang ingin ia sampaikan pada Denis seandainya sahabatnya masih ada. Kalimat-kalimat yang tak sempat terkirim kini tertulis di lembaran kertas, seolah mencari jalan untuk menebus rasa bersalahnya.

Di sekolah, setiap kali ia melihat bangku kosong yang dulu ditempati Denis, hatinya kembali terguncang. Suara tawa teman-teman lain terasa asing, seolah hanya ada dia di kelas, seakan ada satu bagian yang hilang dari ritme keseharian. Adit menyadari, kehilangan bukan sekadar kepergian seseorang, tapi juga ruang yang selamanya tak bisa diisi lagi.

Malam-malam Adit kini dipenuhi doa. Ia memohon agar Tuhan mengampuni sahabatnya, dan juga memberi keteguhan hati untuk dirinya sendiri. Dalam doa-doanya, ia berjanji akan lebih peka terhadap sekitar, lebih mendengar daripada sekadar melihat, dan lebih hadir daripada sekadar memberi tanda di layar.

Waktu terus berjalan, namun luka itu tetap membekas. Dari rasa kehilangan yang perih, Adit belajar bahwa kata-kata sederhana bisa menjadi penyelamat, dan kehadiran sekecil apapun bisa berarti dunia bagi seseorang. Ia tidak bisa mengubah masa lalu, tapi bertekad menjadikan penyesalan ini sebagai pengingat: jangan pernah meremehkan jeritan yang datang lewat diam.

RIP Denis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here