Oleh : Muhammad Gibran
Wartawan Magang
Di sudut kota yang penuh kesunyian, ada seorang anak yang mengembara,
tanpa pelukan, tanpa nama, tanpa arah kembali.
Ia menjadi sahabat bagi bayangan dan dinginnya malam,
menyimpan tangis yang tak pernah ia izinkan untuk jatuh.
Orang-orang memperlakukannya seperti bangkai yang masih bernapas,
didorong, dicaci, seakan jiwanya tak memiliki harga.
Namun ia hanya menunduk, menahan luka tanpa suara,
karena dunia tak pernah menyediakan tempat untuk membela diri.
Ia tidur di trotoar kota, di bawah lampu yang berkedip lelah,
sering diusir hanya karena ia tampak tidak diinginkan.
Perutnya meringkuk kelaparan, namun hatinya tetap utuh,
ia percaya Tuhan masih menyisakan setitik cahaya untuknya.
Dalam setiap langkah, ia memikul hidup yang terlalu besar bagi tubuhnya yang kecil,
tetapi ia tidak pernah merutuki takdir yang menggenggamnya erat.
Ia belajar bertahan dari kejamnya manusia, bukan dari kejamnya Tuhan,
dan terus berjalan, meski dunia ingin ia menyerah.







