Oleh: Ahmad Juno Diansyah
Wartawan Magang
Rizky menatap gerbang UIN Datokarama Palu, yang dijuluki teman-temannya “Kampus 1000 Mimpi”. Di tangannya tergenggam amplop berisi surat penerimaan beasiswa. Jantungnya berdetak kencang—ini adalah langkah pertamanya menuju mimpi yang selama ini ia simpan rapat di dada.
Di rumah, Rizky menatap ayahnya yang duduk di kursi kayu, wajahnya tegas.
“Ayah… aku diterima di UIN,” kata Rizky dengan suara sedikit gemetar.
Ayahnya menghela napas panjang. “Rizky… kau tahu kan, keluarga butuh bantuanmu di rumah. Kuliah tinggi-tinggi itu bukan jalan mudah.”
Rizky menunduk, menahan kecewa. “Tapi ayah, aku ingin belajar… supaya nanti aku bisa mengajar anak-anak di desa kita. Supaya mereka punya harapan.”
Ayahnya diam. Ibu yang duduk di sampingnya menggenggam tangan Rizky. “Nak, ibu tahu kau ingin belajar… tapi ayah khawatir. Hidup itu keras.”
Rizky menarik napas dalam-dalam. “Ibu, Ayah… aku harus mencoba. Mimpi ini terlalu besar untuk ditinggalkan begitu saja.”
Setibanya di kampus, Rizky bertemu teman sekamar, Sari.
“Rizky, kau terlihat tegang. Nervous, ya?” tanya Sari sambil tersenyum.
“Iya… ini semua baru bagiku. Aku takut tidak bisa mengikuti,” jawab Rizky.
Sari menepuk bahunya. “Hei, jangan takut. Kita semua di sini dengan seribu mimpi masing-masing. Yang penting jangan berhenti mencoba.”
Di perpustakaan, Rizky menulis di buku catatannya: “Suatu hari, aku akan mengubah hidup anak-anak di desaku. Aku tidak akan menyerah.”
Suatu sore, duduk di tepi danau kampus, ia berbicara pada diri sendiri: “Mereka bilang aku terlalu bermimpi… tapi lihatlah aku di sini. Aku sedang membangun mimpiku satu demi satu.”
Di Kampus 1000 Mimpi, setiap langkah Rizky menjadi bukti bahwa mimpi, sekecil apapun, bisa tumbuh menjadi nyata jika ada keberanian, ketekunan, dan hati yang tidak pernah menyerah.







