Oleh: Ahmad Juno Diansyah
Wartawan Magang
Di matanya tersimpan bintang-bintang,
Cita-cita setinggi langit yang ingin digapai.
Namun suara di rumah berkata lain,
“Kamu tak mampu, jangan bermimpi tinggi.”
Hatinya pedih, tapi api itu tetap menyala,
Meski tangan yang seharusnya mendorong,
Menahan, membatasi, meredupkan sinarnya.
Setiap malam ia menulis sendiri,
Membayangkan dunia yang luas,
Mendengar angin membisik, “Teruslah maju.”
Suatu hari, meski tanpa izin,
Cahaya itu akan menembus gelap,
Dan bintang-bintangnya akan menjadi nyata.







