Oleh: Ahmad Fauzan
Wartawan LPM Qalamun
Pena lahir dari ujung jemari,
namun hidupnya jauh lebih panjang dari pemiliknya.
Ia menari di atas kertas putih,
merekam mimpi, doa, dan luka yang pernah singgah.
Pena adalah sahabat yang tak pernah mengeluh,
meski dipaksa menuliskan kisah getir,
atau dipaksa mengguratkan keindahan palsu.
Ia hanya tahu satu hal:
menyampaikan isi hati tanpa menimbang siapa benar atau salah.
Tugasnya bukan hanya menorehkan huruf,
tetapi menjaga suara yang tak terdengar.
Ia mengikat pikiran agar tak hanyut,
menyulam gagasan agar tak hilang ditelan waktu.
Kadang pena menjadi saksi perjuangan,
mencatat strategi para pemimpin,
menuliskan perjanjian yang mengubah dunia,
atau sekadar coretan seorang anak
yang baru belajar menulis namanya sendiri.
Kadang pena menjadi penyalur rasa,
mewakili hati yang tak mampu bersuara.
Ia menulis surat cinta dalam malam sepi,
atau menorehkan doa di buku harian yang berdebu.
Pena tak pernah membeda-bedakan,
apakah ia dipakai oleh raja yang berkuasa,
atau oleh petani yang menuliskan hutangnya di buku kecil.
Baginya, setiap guratan adalah tugas,
setiap tinta adalah amanah.
Namun pena pun rapuh:
tinta bisa habis, ujung bisa patah.
Tapi warisannya abadi—
kata-kata yang tertinggal,
yang mampu menggerakkan hati,
bahkan setelah tangan yang menulisnya tiada.
Pena adalah saksi zaman,
merekam sejarah, menjaga warisan,
membangun jembatan antara masa lalu dan masa depan.
Tugasnya sederhana, namun agung:
menjadi suara yang abadi,
saat suara manusia perlahan sirna.







