Oleh: Zanira Nur Aviva
Jurusan: Ekonomi Syariah
Wartawan LPM Qalamun
Sakura menatap pantulan dirinya di cermin kamar yang mulai mengusam. Di usianya yang kini menginjak bangku kuliah, ia masih merasa seperti sebuah sketsa yang belum selesai. Ada garis-garis samar tentang keinginan menyanyi, menggambar, menari, atau menulis, namun tak satu pun yang benar-benar tegas membentuk warna.
Baginya, ia hanyalah sosok biasa tanpa kelebihan istimewa yang patut dibanggakan. Semua bidang yang diminatinya hanya berakhir sebagai hobi yang tidak pernah ia dalami dengan sungguh-sungguh.
“Sakura, sudah siap? Ibu sudah menyiapkan sarapan,” suara lembut itu terdengar dari dapur. Meiko sosok yang selama ini menjadi penentu arah kompas hidup Sakura memanggilnya dengan penuh kehangatan.
Sakura menarik napas panjang. Pikirannya melayang ke masa sekolah dasar, saat ia hanya bisa terdiam melihat teman-temannya mengikuti les matematika demi persiapan ujian.
“Andai dulu biaya bukan penghalang, mungkin aku tidak akan sepantang ini dengan angka,” gumamnya pelan. Ia teringat betapa ia sangat membenci hitung-hitungan, tetapi terpaksa menyerah pada keadaan karena orang tuanya belum mampu membiayai les tambahan.
Sejak kecil, Sakura telah diajari bahwa mencari uang bukanlah perkara mudah. Kenyataan itu memaksanya untuk terus mengubur banyak keinginan yang tumbuh di benaknya.
Di kampus daerah tempatnya menimba ilmu—sebuah pilihan yang diambilnya demi menuruti keinginan sang ibu, meskipun hatinya ingin merantau ke luar kota, Sakura duduk di bawah pohon rindang bersama Haruto, sahabatnya.
“Wajahmu kusut terus, Sakura. Masih soal keinginan kuliah di luar kota yang kandas itu?” tanya Haruto sambil membidik objek di kejauhan dengan kameranya.
“Bukan sekadar kandas, Haru. Rasanya lucu sekaligus menyedihkan melihat impian-impian itu tak bisa digapai karena ekonomi yang begitu kejam,” jawab Sakura getir.
Ia kerap merasa iri melihat anak-anak dari keluarga berada yang memiliki kebebasan untuk mengembangkan bakat seni melukis, membuat komik, atau memainkan alat musik klasik tanpa harus memikirkan biaya.
“Aku sudah serba diatur sejak dulu, seolah tampak mandiri. Padahal kenyataannya, aku masih merasa mempersulit orang tuaku karena belum bisa menghasilkan uang sendiri di usia sekarang,” lanjutnya dengan nada menyesal.
Haruto menurunkan kameranya, menatap Sakura dengan serius. “Tapi kamu tidak berhenti di sini, kan?”
“Tidak,” jawab Sakura mantap.
“Aku sudah membuat janji pada Ibu. Jika aku lulus nanti, aku akan mengejar kuliah ke luar negeri. Aku tidak ingin pergi karena benci, Haru. Aku hanya ingin mengeksplorasi diri, mendewasakan pikiran, dan merasakan alur hidup yang aku rencanakan sendiri, agar tidak lagi menjadi beban di pundak orang tuaku yang semakin menua.”
Malam itu, saat membantu ibunya di dapur, Sakura memberanikan diri menggenggam tangan wanita yang wajahnya mulai dihiasi kerutan usia.
“Bu, Sakura akan menyelesaikan kuliah di sini dengan sebaik mungkin. Namun setelah itu, izinkan Sakura terbang lebih jauh, ya? Bukan untuk meninggalkan Ibu, melainkan agar Sakura bisa berdiri tegak tanpa terus memberatkan pundak Ibu dan Ayah.”
Meiko terdiam sejenak. Lalu, ia tersenyum tipis sembari mengelus rambut Sakura. Di matanya, Sakura bukan lagi sekadar sketsa samar, melainkan sebuah lukisan yang sedang berjuang menemukan warna-warnanya sendiri.







