Nama: Haura Hafidzah
Jurusan: Komunikasi Penyiaran Islam
Wartawan LPM Qalamun
Dunia kampus seharusnya menjadi ruang di mana intelektualitas dan moralitas tumbuh berdampingan. Namun, kenyataan pahit kerap muncul ketika sosok pendidik yang seharusnya menjadi teladan justru menampilkan sikap sombong dan angkuh. Fenomena dosen yang merasa lebih tinggi serta tidak segan merendahkan mahasiswa dengan kata-kata kasar merupakan luka bagi sistem pendidikan kita. Gelar akademik yang berderet seolah kehilangan maknanya jika tidak diiringi dengan adab dan kesantunan dalam bertutur.
Kesombongan tidak hanya terpancar melalui ucapan, tetapi juga melalui raut wajah dan gestur tubuh yang meremehkan. Ketika banyak mahasiswa merasakan aura negatif yang sama, hal ini bukan lagi sekadar subjektivitas individu, melainkan indikasi adanya masalah karakter yang nyata. Pendidik yang menunjukkan sikap angkuh seakan membangun tembok pemisah yang tebal, sehingga mahasiswa merasa tertekan dan tidak nyaman dalam proses belajar-mengajar.
Salah satu hal yang paling menyakitkan adalah ketika dosen menggunakan kata-kata kasar, seperti “goblok”, untuk melabeli keterbatasan mahasiswa. Secara etika, tugas seorang dosen adalah mengarahkan mahasiswa dari tidak paham menjadi paham, bukan justru memaki. Penghinaan semacam ini merupakan bentuk kegagalan komunikasi yang serius, ketika seorang profesional kehilangan kendali emosi dan melupakan fungsi utamanya sebagai pembimbing.
Lebih ironis lagi apabila sikap tersebut dilakukan di belakang mahasiswa. Membicarakan keburukan mahasiswa kepada orang lain demi menjatuhkan martabatnya adalah tindakan yang jauh dari nilai integritas. Seorang yang benar-benar berpendidikan tinggi seharusnya mampu menyampaikan evaluasi secara objektif dan tertutup, bukan menyebarkan stigma negatif yang bersifat personal.
Jika ditinjau dari perspektif spiritual, sifat sombong dan ria merupakan penyakit hati yang sangat dilarang. Dalam ajaran Islam, semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya ia semakin rendah hati, sebagaimana padi yang semakin berisi semakin merunduk. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membawa keberkahan dan ketenangan bagi lingkungan sekitar, bukan yang digunakan untuk memamerkan kehebatan diri atau merendahkan orang lain.
Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa mahasiswa sering kali memilih diam karena rasa segan dan posisi tawar yang lemah. Mahasiswa menghormati dosen karena jabatan dan ilmunya, tetapi rasa hormat tersebut seharusnya bersifat timbal balik. Ketika rasa segan mahasiswa dibalas dengan amarah dan arogansi, hubungan akademis yang sehat tidak akan tercipta, dan proses transfer ilmu akan terhambat oleh rasa takut.
Suasana kelas yang diwarnai kemarahan dan tekanan emosional hanya akan menciptakan lingkungan belajar yang tidak sehat. Pendidikan yang efektif membutuhkan rasa aman secara psikologis agar mahasiswa berani bertanya dan berdiskusi. Jika dosen lebih sering menunjukkan dominasi melalui emosi daripada diskusi yang mencerahkan, maka kampus hanya akan menjadi ruang yang menumbuhkan rasa rendah diri pada generasi muda.
Sebagai penutup, penting untuk diingat bahwa gelar akademik hanyalah simbol jika tidak diimbangi dengan kualitas kemanusiaan. Pendidik sejati adalah mereka yang mampu memanusiakan manusia, menjaga lisannya dari makian, serta menjauhkan hati dari kesombongan. Sudah saatnya dunia pendidikan berbenah, sehingga rasa hormat lahir bukan karena rasa takut, melainkan karena keteladanan yang nyata







