Home PUISI Rumah yang Tak Pernah Menutup Pintu

Rumah yang Tak Pernah Menutup Pintu

6
0

Nama: Haura Hafidzah
Jurusan:Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Wartawan LPM Qalamun

Ibu, Ayah…

Di setiap lelah yang tak pernah kalian ucapkan,
Ada namaku yang perlahan kalian sebut dalam doa.
Aku tumbuh dari letih yang kalian sembunyikan
Dari lapar yang kalian tahan,
dan dari mimpi yang kalian relakan
Agar mimpiku dapat terbang lebih jauh.

Tangan kalian mungkin mulai bergetar,
punggung kalian mungkin tak setegak dahulu, tetapi di sana tersimpan kisah panjang tentang cara kalian bertahan—
demi anak yang kadang lupa pulang, lupa memberi kabar,
bahkan lupa bertanya, “Bagaimana harimu hari ini?”

Maafkan aku, Ibu, Ayah…

Untuk semua kata “nanti” yang tak pernah menjadi “sekarang”,
dan untuk kalimat “aku sibuk” yang sering kali menutup pintu cerita kalian.
Padahal, kalian tak pernah meminta apa pun.
Kalian hanya ingin melihatku baik-baik saja, sehat, dan cukup bahagia.

Mencintai kalian adalah belajar merendahkan suara ketika hati sedang marah,
belajar melangkah pulang meski jarak sedang menjauh,
dan belajar memeluk sebelum kata-kata tak lagi mungkin terucap.

Izinkan aku mencintai kalian lebih tulus daripada kemarin
Dengan telinga yang sungguh-sungguh mendengar
Dengan tangan yang tidak lagi takut menggenggam
Dan dengan pelukan yang tak menunggu kehilangan.

Sebab aku tahu, suatu saat nanti,
kursi di ruang tamu itu akan terasa lebih lapang,
piring di meja makan akan terhitung lebih sedikit,
dan doa kalian hanya akan menjadi kenangan yang mengantarkanku dalam sunyi.

Sebelum hari itu datang, biarkan aku menjadikan kalian rumah yang selalu kuingat,
bukan hanya saat dunia terasa menyakitkan,
tetapi juga saat bahagia datang dan ingin segera kubagi.

Ibu, Ayah…
Kalau ada surga di dunia,
itu adalah ketika aku bisa duduk di antara kalian,
menyebut satu per satu kebaikan yang kalian tanam,
dan memeluk kalian sambil berbisik pelan:

Terima kasih sudah lelah untukku.
Izinkan sekarang aku yang menjaga kalian.
Aku mencintai kalian, lebih dari yang dapat diucapkan kata-kata,
lebih dari yang pernah sempat aku tunjukkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here