Nama: Yuni
Jurusan: Sistem Informasi
Wartawan LPM Qalamun
Namanya Queen. Berkali-kali ia direndahkan oleh seorang laki-laki yang tidak pernah berhasil mendapatkannya. Penolakan yang terus ia berikan membuat laki-laki itu berubah. Rasa kagum yang dahulu tampak tulus perlahan berubah menjadi ego yang terluka. Alih-alih menghormati keputusan Queen, ia justru memilih merendahkannya dengan kata-kata yang menyakitkan. Baginya, perempuan yang sulit didapat hanyalah perempuan yang terlalu menganggap dirinya mampu hidup tanpa seorang pria.
Namun, Queen tidak pernah membalas setiap perkataan yang ditujukan kepadanya. Ia memilih tetap tenang, bukan karena tidak mampu menjawab, melainkan karena ia percaya bahwa harga diri tidak perlu dipertahankan dengan kemarahan. Ia tahu bahwa seseorang yang benar-benar menghargai perempuan tidak akan pernah menjadikan penolakan sebagai alasan untuk merendahkan.
Suatu sore, laki-laki itu kembali menghampirinya. Dengan penuh keyakinan, ia berkata, “Mengapa kamu begitu sulit untuk didapatkan? Apa kamu tidak tahu, bahkan perempuan secantik seorang putri pun tetap membutuhkan seorang pendamping?”
Queen menatapnya dalam diam. Tidak ada kebencian di matanya, hanya ketenangan yang perlahan membuat laki-laki itu kehilangan rasa percaya diri. Beberapa saat kemudian, Queen tersenyum tipis dan berkata, “Ya, aku tahu. Namun, ada satu hal yang belum kamu pahami.”
Laki-laki itu terdiam dengan wajah penuh tanda tanya. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar ingin mendengar jawaban dari perempuan yang selama ini gagal ia taklukkan.
Queen menarik napas pelan. Dengan tatapan dingin dan suara lembut, ia berkata:
“Because I’m Queen, not Princess. Seorang putri mungkin akan selalu menunggu untuk dipilih. Namun, seorang ratu menentukan sendiri siapa yang pantas berdiri di sisinya. Dan yang harus kamu pahami, seseorang dengan sikap buruk sepertimu tidak akan pernah pantas mendapatkan posisi itu.”
Ucapan itu membuat suasana seketika hening. Laki-laki itu kehilangan semua kata-katanya, sementara Queen melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun. Ia pergi bukan karena merasa lebih dari siapa pun, melainkan karena ia memahami bahwa perempuan yang mengetahui betapa berharganya dirinya tidak akan pernah menyerahkan hatinya kepada seseorang yang bahkan tidak tahu cara menghargai perempuan.







