Home CERPEN Suara yang Tenggelam di Linimasa

Suara yang Tenggelam di Linimasa

5
0

Nama: Muhammad Jibril Paendong
Jurusan: Komunikasi Penyiaran Islam
Wartawan LPM Qalamun

Setiap pagi, Arga selalu memulai harinya dengan membuka media sosial. Sebagai mahasiswa, ia merasa bahwa hampir semua informasi penting berasal dari layar ponselnya. Berita, opini, hingga berbagai unggahan yang sedang viral memenuhi berandanya tanpa henti. Lambat laun, ia lebih percaya pada apa yang ramai diperbincangkan di dunia maya daripada mencari kebenaran dari sumber yang jelas. Baginya, semakin banyak orang membagikan suatu informasi, semakin besar pula kemungkinan informasi itu benar.

Suatu hari, sebuah unggahan tentang seorang pedagang kecil yang dituduh mencampurkan bahan berbahaya ke dalam makanan dagangannya menjadi perbincangan hangat. Video berdurasi singkat itu disertai narasi yang meyakinkan sehingga, dalam hitungan jam, ribuan orang membagikannya. Tanpa berpikir panjang, Arga ikut membagikan video tersebut disertai komentar yang menyalahkan sang pedagang. Ia merasa telah melakukan sesuatu yang baik dengan memperingatkan orang lain agar tidak membeli dagangan tersebut.

Keesokan harinya, Arga melewati tempat berdagang yang ada dalam video itu. Ia terkejut melihat warung yang biasanya dipenuhi pembeli kini tampak sepi. Seorang pria paruh baya duduk termenung di depan gerobaknya, sementara beberapa warga hanya memandang dari kejauhan tanpa berani mendekat. Arga mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres, tetapi ia belum menyadari bahwa dirinya turut menjadi bagian dari penyebab keadaan tersebut.

Beberapa hari kemudian, sebuah media nasional memuat hasil klarifikasi dari pihak berwenang. Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium, makanan yang dijual pedagang itu dinyatakan aman dan tidak mengandung bahan berbahaya. Video yang beredar ternyata dipotong sedemikian rupa sehingga mengubah konteks kejadian, sedangkan narasi yang menyertainya hanyalah informasi palsu yang sengaja dibuat untuk menarik perhatian warganet. Kebenaran akhirnya terungkap, tetapi penyebarannya tidak secepat berita bohong yang lebih dahulu viral.

Merasa bersalah, Arga mendatangi warung tersebut untuk meminta maaf secara langsung. Pedagang itu menerima permintaan maafnya dengan senyum yang tampak dipaksakan. Dengan suara pelan, ia bercerita bahwa sejak video itu tersebar, penghasilannya menurun drastis. Banyak pelanggan lama memilih berhenti membeli karena takut dengan isu yang beredar. Bahkan, anaknya sempat menjadi bahan ejekan di sekolah akibat tuduhan yang sebenarnya tidak pernah terbukti.

Perjalanan pulang membuat Arga terus memikirkan kejadian itu. Ia menyadari bahwa satu kali menekan tombol “bagikan” ternyata dapat mengubah kehidupan seseorang. Selama ini, ia menganggap media sosial hanyalah tempat berbagi informasi, padahal setiap unggahan memiliki dampak nyata bagi orang lain. Ia merasa penyesalan saja tidak cukup untuk menghapus kerugian yang telah dialami sang pedagang.

Sejak saat itu, Arga mengubah kebiasaannya. Ia mulai memeriksa kebenaran setiap informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Ia belajar mengenali sumber berita yang kredibel, membaca isi berita secara utuh, serta membandingkannya dengan informasi dari berbagai media. Di akun media sosialnya, Arga juga mengunggah permintaan maaf serta mengajak teman-temannya agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan tidak mudah terpancing oleh informasi yang belum terbukti.

Perlahan-lahan, unggahan Arga mendapat perhatian banyak orang. Beberapa teman mengakui bahwa mereka juga sering membagikan berita hanya karena melihatnya sedang viral. Mereka kemudian bersama-sama membuat kampanye kecil di lingkungan kampus mengenai pentingnya literasi digital dan bahaya penyebaran hoaks. Meskipun tidak dapat menghapus semua kesalahan yang telah terjadi, mereka berharap semakin banyak orang memahami bahwa kecepatan menyebarkan informasi tidak boleh mengalahkan tanggung jawab untuk memastikan kebenarannya.

Sejak peristiwa itu, Arga menyadari bahwa di tengah derasnya arus informasi, suara kebenaran sering kali tenggelam di dalam linimasa yang dipenuhi sensasi dan emosi. Ia belajar bahwa menjadi pengguna media sosial yang bertanggung jawab bukan hanya tentang kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga tentang keberanian untuk berpikir kritis, memverifikasi fakta, dan menjaga martabat sesama manusia. Sebab, satu informasi yang tidak benar dapat menghancurkan kehidupan seseorang, sedangkan satu tindakan bijak dapat menjadi awal lahirnya kepercayaan dan kepedulian di tengah masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here