Oleh: Fitri Amalia
Wartawan LPM Qalamun
Lena dan Aldo adalah sahabat sejak kecil; mereka selalu bersekolah di tempat yang sama, dari sekolah dasar hingga SMA. Setiap pagi, Aldo selalu menjemput Lena untuk berangkat bersama. Namun, suatu pagi, Aldo tidak datang. Ketika di sekolah, Lena mendengar kabar mengejutkan dari teman sekelas, “Aldo pindah besok. Itu sebabnya dia tidak masuk hari ini.”
Kata-kata itu seakan mematahkan seluruh harapan Lena. Tanpa berpikir panjang, sepulang sekolah, ia langsung menuju rumah Aldo. Saat pintu terbuka, Aldo muncul dengan senyum yang tampak dipaksakan. “Aku baru tahu tadi malam,” ucapnya pelan. “Ayahku dipindahtugaskan ke Pulau Jawa, dan aku harus ikut.”
Lena hanya menatapnya, merasa terperangkap dalam kesedihan yang mendalam. “Kapan kamu berangkat?” tanyanya dengan suara hampir tak terdengar.
“Besok pagi,” jawab Aldo.
Suasana hening, seolah ada dinding tak terlihat yang memisahkan mereka. Lena ingin mengungkapkan perasaan yang selama ini terpendam, tapi kata-kata itu tertahan. Aldo merasakan kegelisahan Lena dan mengajaknya ke taman.
“Malam ini kita jalan-jalan yuk? Sebelum aku berangkat besok,” tawarnya.
Lena mengangguk meski hatinya penuh sesak.
Malam itu, mereka tertawa bersama, berbagi kenangan terakhir. Namun, di balik tawa itu, Lena menyimpan perasaan yang tak pernah ia ungkapkan, takut merusak persahabatan mereka. Saat berjalan pulang, Aldo menatap Lena dengan tatapan dalam.
“Aku tidak tahu kapan bisa kembali,” katanya dengan lembut. “Semoga kita bisa bertemu lagi, di waktu yang ditentukan takdir.”
Lena tersenyum, meski matanya berkabut. “Amin,” jawabnya dengan suara yang hampir tak terdengar.
Esoknya, Aldo pergi, dan Lena merasa seakan ada bagian dari dirinya yang hilang.
—
Lima tahun berlalu. Lena kini dewasa, sibuk dengan kariernya. Ia tidak pernah benar-benar memikirkan pernikahan hingga suatu malam, ayahnya berkata, “Ayah sudah menjodohkanmu.”
Lena terkejut, hatinya menolak, namun ia tidak bisa membantah.
“Dengan siapa?” tanyanya; suaranya datar, meskipun hatinya bergejolak.
“Kamu kenal dia,” jawab ayahnya, membuat Lena semakin gelisah.
Hari lamaran tiba, dan Lena masih bingung siapa pria yang akan mengisi hidupnya. Pukul sembilan pagi, mobil hitam berhenti di depan rumah. Lena menunggu dengan jantung berdebar. Saat pintu terbuka, seseorang masuk, dan dunia Lena seakan berhenti berputar.
Sosok itu tersenyum lembut. “Hai, Lena.”
Lena menahan napas, matanya terbuka lebar. “Aldo?” bisiknya, hampir tidak percaya.
Ayahnya tertawa kecil. “Kami sudah lama merencanakan ini,” katanya.
Lena masih terdiam, jantungnya berdegup sangat cepat. Lima tahun tanpa kabar, tanpa tahu apakah mereka akan bertemu lagi, dan kini pria yang pernah menjadi sahabat kecilnya berdiri di hadapannya sebagai calon suaminya.
Aldo melangkah maju, menatap Lena dengan tatapan penuh harapan.
“Aku kembali,” katanya, suaranya bergetar. “Dan kali ini, aku tidak akan pergi lagi.”
Lena menggigit bibirnya, berusaha menahan air mata.
“Kenapa kamu tidak memberi kabar?” tanyanya pelan, suaranya serak karena menahan emosi.
Aldo menghela napas, tersenyum samar. “Aku takut,” ujarnya dengan tulus. “Takut kalau aku menghubungimu, aku tidak bisa menahan diri untuk kembali ke sini. Tapi ketika ayahku mengusulkan perjodohan ini, aku tidak ragu sedikit pun. Aku sudah mencintaimu sejak dulu, Lena. Aku hanya terlalu pengecut untuk mengatakannya.”
Lena terdiam, matanya terbelalak mendengar pengakuan itu. Perasaan yang selama ini ia simpan ternyata berbalas.
Keheningan yang menyelimuti mereka kini terasa berbeda; bukan keheningan yang menyakitkan, tetapi keheningan yang penuh harapan.
Aldo menggenggam tangan Lena dengan lembut. “Jadi, bagaimana? Mau menjalani hidup bersama sahabat kecilmu?” tanyanya dengan senyum yang tak pernah berubah.
Lena menahan air matanya yang hampir jatuh, lalu tersenyum—senyum yang penuh arti. Ia mengangguk.
“Iya, saya mau.”
Sorak sorai keluarga terdengar di sekeliling mereka, tetapi Lena hanya bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang kini berdetak kencang, seakan-akan mau meledak saking bahagianya.
Takdir memang sempat memisahkan mereka, tetapi akhirnya, cinta yang tertunda yang menyatukan mereka kembali.







