Oleh: Miftha Wahdania
Wartawan LPM Qalamun
Untukmu, Mentari Pagi
Aku berpikir bahwa kamulah pemilik warna kulit rupawan yang pernah kulihat.
Tuhan melukis senyummu dengan indah, membuatku terenyuh.
Kedua bola matamu, yang sebenarnya menatap lama, tak berani aku balas.
Aku melihat sebuah dikara yang dalam.
Sebuah kesempatan, jariku menyeka setiap helai rambut hitammu.
Aroma tubuhmu yang tak sengaja terendus olehku
membuatku mencari, di mana keberadaanmu.
Cinta ini murni,
aku menyukaimu.
Namun, aku memilih untuk tenggelam dan menyimpan rasa ini sedalam-dalamnya.
Beribu perasaan emosional tertahan di hatiku.
Meski begitu, aku tetap memilih hatiku jatuh padamu.
Bahkan, di mana pun aku melangkah,
aku akan kembali ke tempat yang sama,
sampai waktu tiba, aku melihat tubuhmu berlari ke arahku.
Cinta ini murni,
tak ingin kuhabiskan dengan menjalani hubungan,
hubungan yang tak berujung, tak ada restu di dalamnya.
Cinta ini terlalu murni.
Biarkan Tuhan mendengarkan seluruh doa.
Semoga ujung dari penantian ini adalah kamu.
Ini manis, mata yang saling bertatap,
tanpa membicarakan perasaan yang terpendam.







