Oleh: Firdah Syari
Wartawan LPM Qalamun
Tak selalu tersorot, sering kali terabaikan,
Namun tetap berdiri tegar di tengah kesunyian.
Terkadang terjepit bayang masa depan,
Diburu jejak yang terus mengekori dari belakang.
Kisah tentang mereka yang lebih bercahaya,
Menyesakkan dada yang terbiasa hening.
Seperti duri menancap pada luka lama,
Tersembunyi di balik pintu kamar yang gelap.
Di balik senyum yang tersuguh setiap hari,
Ada tangis yang enggan menampakkan diri.
Rapuh memang, tapi bukan untuk dikasihani,
Sebab luka telah menempa keberanian sejati.
Andai sunyi menjadi teman terakhir,
Biarkan air mata jadi saksi abadi.
Sebab dari hening yang paling dalam,
Lahir kekuatan yang tertanam di jiwa.







