Oleh: Suci Tri Pratiwi
Wartawan LPM Qalamun
Catatan Pengantar
Cerpen ini terinspirasi dari drama Korea Twenty-Five Twenty-One. Tokoh, latar, dan detail cerita dibuat ulang dengan nuansa Tiongkok, sehingga cerita ini menjadi karya orisinal yang hanya mengambil ide dan tema dasarnya.
—
Tahun 1998, Hangzhou muram. Krisis ekonomi menghantam: toko-toko tutup, keluarga jatuh miskin. Di sekolah menengah kota itu, Lin Qian, gadis 18 tahun, berdiri di lapangan dengan pedang anggar bergetar di tangannya. Klub anggar dibubarkan karena dana habis.
“Tidak bisa! Aku belum siap berhenti!” serunya.
Pelatih hanya menunduk pasrah.
Di rumah sederhana mereka, ibunya—baru saja kehilangan pekerjaan—menyarankan Lin Qian berhenti berlatih dan fokus pada ujian universitas. Ayahnya, seorang guru sejarah, tak berkata banyak. Diam-diam ia menjual koleksi bukunya agar putrinya tetap bisa membeli peralatan sederhana.
Di sisi lain kota, Zhou Yichen, pemuda 22 tahun, menyusuri gang sambil menggendong tumpukan koran bekas. Dulu ia mahasiswa jurnalisme, namun keluarganya bangkrut, ayahnya kabur, ibunya sakit-sakitan, dan adiknya masih sekolah. Ia bekerja serabutan demi menyambung hidup. Hanya satu benda yang selalu ia bawa: buku catatan lusuh berisi kisah orang-orang kecil yang bertahan.
Takdir mempertemukan mereka di perpustakaan umum. Lin Qian mencari buku tentang anggar, tapi rak kosong. Dengan kesal ia menabrak seorang pemuda.
“Lihat jalanmu!” serunya.
“Kalau kau terus menunduk, kau takkan pernah lihat ke depan,” jawab pemuda itu.
Lin Qian melotot, tapi matanya menangkap buku catatan di tangannya. Orang-Orang yang Tidak Menyerah.
“Apa ini?” tanyanya.
“Catatanku,” jawabnya singkat. Ia memperkenalkan diri: Zhou Yichen. Saat melihat pedang anggar di tangan Lin Qian, ia berbisik, “Kau tak terlihat seperti orang yang mudah menyerah.”
Sejak hari itu, mereka sering bertemu. Lin Qian berlatih sendiri di taman, Yichen kadang membawakannya roti dari kafe tempat ia bekerja. Ia mengenalkan Lin Qian pada Chen Hao, loper koran yang bercita-cita jadi fotografer. Lin Qian mengenalkan Yichen pada Mei Ling, sahabat anggarnya yang ceria. Persahabatan aneh pun terbentuk.
“Aku sedang menulis artikel untuk majalah,” kata Yichen suatu sore.
“Artikel apa?” tanya Lin Qian.
“Orang-orang yang tidak menyerah pada hidup. Seperti kau.”
Lin Qian tersenyum. “Kalau begitu, tulislah aku sebagai juara nasional!”
“Kalau kau kalah?”
“Aku akan bangkit lagi.”
Yichen menunduk, menuliskan kalimat itu di catatannya.
Tahun berganti. Lin Qian diterima di tim anggar provinsi. Jalannya penuh rintangan: sering kalah, dicemooh karena berasal dari klub bubar, tapi ia terus berjuang. Yichen pindah ke Beijing, awalnya menulis iklan, lalu perlahan masuk ke liputan sosial. Artikel pertamanya berjudul Remaja yang Bermimpi di Tengah Krisis—diam-diam terinspirasi dari Lin Qian.
Suatu malam mereka duduk di tepi Danau Xihu.
“Yichen, kalau suatu hari kita berjalan di jalan berbeda, kau masih akan menulis tentangku?” tanya Lin Qian.
“Aku akan menulis tentangmu seumur hidupku. Tapi mungkin hanya bisa menulis, bukan lagi berada di sisimu.”
Air mata Lin Qian jatuh. “Kenapa kita bicara seolah-olah akhir sudah dekat?”
“Karena hidup tidak selalu memberi pilihan.”
Tahun 2001, Lin Qian masuk tim nasional. Ia berkeliling mengikuti kejuaraan. Yichen semakin sibuk di Beijing, hingga mendapat penghargaan atas laporan sosialnya. Mereka jarang bertemu, hanya sesekali menelpon singkat. Namun diam-diam, mereka saling mendukung.
Setiap kali Lin Qian meraih medali, Yichen menulis artikel penuh kebanggaan tanpa menyebut namanya. Setiap kali Yichen menerbitkan laporan besar, Lin Qian menyimpannya bersama medalinya.
Menjelang kejuaraan, Lin Qian cedera lutut parah. Hampir putus asa, ia terbaring di rumah sakit. Yichen datang, duduk di sisinya.
“Kalau kau menyerah sekarang, semua air matamu sia-sia,” katanya.
Ucapan itu menyalakan semangatnya kembali.
Empat tahun kemudian, mereka bertemu di kafe kecil di Beijing. Lin Qian datang dengan jaket tim nasional, rambutnya kini pendek. Yichen tampak lebih matang, wajah letih, tapi mata tetap hangat.
“Sudah lama, ya,” kata Lin Qian tersenyum canggung.
“Ya. Terlalu lama,” jawab Yichen.
Mereka berbincang tentang keluarga dan masa lalu. Lin Qian bercerita ibunya sudah pensiun, ayahnya sakit-sakitan. Yichen bercerita adiknya berhasil masuk universitas berkat beasiswa.
“Aku 21 tahun, kau 25 waktu itu… masa paling indah dalam hidupku,” kata Lin Qian dengan suara bergetar.
“Aku juga,” jawab Yichen, tersenyum tipis. “Tapi masa itu sudah berlalu. Yang tersisa hanya kenangan. Dan itu cukup.”
Mata mereka berkaca-kaca. Tak ada janji, tak ada pengakuan cinta. Hanya dua hati yang tahu mereka pernah jadi segalanya.
Bertahun-tahun kemudian, Lin Qian pensiun dari anggar. Ia mengajar anak-anak di klub lokal. Suatu sore, ia membuka kotak tua berisi medali dan artikel lama. Di dalamnya ada tulisan Zhou Yichen, kertasnya menguning. Ia tersenyum, berbisik, “Zhou Yichen… terima kasih sudah menulis tentangku.”
Di sebuah apartemen di Beijing, Yichen menutup buku catatannya. Pada halaman terakhir tertulis:
“Untuk gadis berusia 18 tahun yang berlari melawan dunia dengan pedang anggar.
Kau selalu abadi di catatanku.”
Angin musim gugur menerobos jendela, membawa bayangan gadis muda yang dulu ia temui. Meski waktu terus berlalu, bagi mereka berdua, usia 25 dan 21 akan selalu abadi.







