Oleh: M. Alif
Wartawan LPM Qalamun
Aku kira ia pergi untuk memperbaiki diri. Kukira langkahnya menjauh dariku adalah jalan menuju versi terbaik dirinya—yang suatu hari akan kembali dengan senyum baru, membawa kabar bahwa luka yang dulu pernah ia simpan sudah sembuh.
Namun, aku salah.
Ia tidak pergi untuk berbenah, apalagi membangun kembali apa yang runtuh di antara kami. Ia pergi karena menemukan kenyamanan lain—bukan di tempat jauh, bukan dengan orang asing, tetapi dengan seseorang yang justru berdiri begitu dekat denganku: temanku sendiri.
Rasanya aneh. Seperti ditusuk tanpa sempat menoleh. Seperti dikhianati dalam diam. Mereka berjalan berdampingan, tertawa di bawah cahaya senja, sementara aku berdiri di kejauhan, mencoba menerima kenyataan bahwa kepergiannya bukan karena alasan mulia yang kukira, melainkan karena pilihan yang sengaja ia sembunyikan.
Hati kecilku bertanya-tanya, apakah aku terlalu bodoh mempercayai kata-katanya? Ataukah terlalu naif membayangkan bahwa setiap kepergian selalu membawa niat baik?
Kini, aku belajar satu hal: tidak semua orang pergi untuk memperbaiki diri. Ada yang pergi hanya untuk mencari pengganti. Dan terkadang, yang paling menyakitkan adalah ketika pengganti itu datang dari lingkaran terdekat kita sendiri.
Aku tersenyum pahit.
Biarlah. Mungkin kisahku berhenti di sini, tetapi bukan berarti langkahku ikut berhenti. Sekalipun ia memilih pergi, aku tetap berhak melangkah menuju versi terbaik diriku sendiri—tanpa harus merebut atau direbutkan siapa pun.
Pada akhirnya, aku menyadari bahwa kepergian orang lain tidak selalu harus kusesali. Sebuah kehilangan justru bisa membuka ruang bagi sesuatu yang lebih berharga: kesempatan untuk mengenal diriku lebih dalam.
Aku mungkin pernah menjadi rumah yang ditinggalkan, tetapi aku juga bisa membangun rumah baru dalam diriku—yang lebih kokoh, lebih hangat, dan tak mudah runtuh karena kehadiran atau kepergian seseorang. Di sanalah aku belajar menumbuhkan keberanian, menata luka, dan merawat sisa-sisa kepercayaan yang hancur.
Jika suatu hari aku dipertemukan lagi dengan kepergian lain, aku tak akan menunggu alasan di baliknya. Kini aku tahu, tak semua kepergian butuh penjelasan, dan tidak semua luka harus diceritakan. Ada saatnya aku hanya perlu berdiri tegak, menatap ke depan, lalu berbisik pada diriku sendiri:
“Aku baik-baik saja.”







