Oleh: Aprilia Ayu Azhani
Wartawan LPM Qalamun
Fenomena rendahnya minat membaca di kalangan mahasiswa/i UIN Datokarama Palu menjadi persoalan serius yang perlu mendapat perhatian. Fakta menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa/i hanya mengunjungi perpustakaan ketika ada tugas dari dosen, menandakan bahwa budaya literasi belum menjadi kebutuhan, melainkan sekadar kewajiban akademik. Padahal, membaca dan mengakses literatur merupakan kunci untuk memperluas wawasan, mengasah daya kritis, dan membangun kemampuan analisis yang dibutuhkan dalam menghadapi kompleksitas zaman.
Rendahnya budaya literasi memiliki dampak luas. Salah satunya, mahasiswa/i menjadi mudah terpengaruh berita hoaks yang bertebaran di media sosial. Minimnya kebiasaan membaca membuat mereka kurang memiliki filter intelektual dalam membedakan informasi valid dan propaganda. Kondisi ini tidak hanya merugikan individu, tetapi juga berpotensi membahayakan masyarakat, sebab mahasiswa sejatinya adalah agen perubahan dan pembawa gagasan pencerahan.
Sebagai institusi pendidikan tinggi Islam, UIN Datokarama seharusnya menjadi garda terdepan dalam menumbuhkan budaya literasi. Upaya ini dapat dilakukan dengan mendorong kegiatan membaca secara rutin, menghidupkan diskusi ilmiah, dan menjadikan perpustakaan bukan hanya gudang buku, tetapi pusat aktivitas intelektual yang menarik. Dosen juga memegang peran penting dalam menanamkan kesadaran bahwa membaca bukan sekadar tugas, tetapi investasi ilmu untuk masa depan.
Rendahnya minat literasi juga dipengaruhi perkembangan teknologi digital. Kemudahan akses informasi melalui media sosial dan video singkat membuat mahasiswa lebih tertarik pada konten instan daripada buku atau jurnal ilmiah yang membutuhkan konsentrasi dan waktu lebih lama. Pola konsumsi informasi ini secara tidak langsung melemahkan kemampuan mereka dalam membaca teks panjang dan mendalam.
Namun, akar persoalan sesungguhnya terletak pada kesadaran mahasiswa/i itu sendiri. Banyak yang belum memandang membaca sebagai kebutuhan intelektual, melainkan aktivitas tambahan yang dilakukan bila terpaksa. Tanpa kesadaran diri untuk terus belajar melalui literasi, mahasiswa sulit mengembangkan potensi penuh yang dimilikinya. Kesadaran inilah yang harus ditumbuhkan sejak dini agar budaya membaca benar-benar hidup di lingkungan kampus.
Peran organisasi mahasiswa juga penting dalam menghidupkan literasi. Unit Kegiatan Mahasiswa dapat menginisiasi program seperti bedah buku, kelas menulis, atau forum diskusi mingguan yang melibatkan dosen maupun praktisi. Kegiatan ini tidak hanya menumbuhkan kebiasaan membaca, tetapi juga menciptakan iklim akademik yang hidup dan partisipatif. Literasi pun tidak lagi sekadar kewajiban individual, tetapi bagian dari gerakan kolektif.
Lebih jauh, literasi juga perlu dipandang sebagai kebutuhan spiritual dan intelektual yang sejalan dengan nilai-nilai keislaman. Islam menegaskan pentingnya membaca dalam wahyu pertama, “Iqra’”, yang menekankan bahwa ilmu diperoleh melalui membaca dan menelaah. Jika mahasiswa UIN Datokarama Palu memahami esensi ini, rendahnya minat literasi bukan lagi masalah, melainkan tantangan yang dapat dijawab dengan semangat pembaruan dan komitmen terhadap ilmu.
Pada akhirnya, literasi adalah fondasi bagi lahirnya generasi cerdas, kritis, dan berintegritas. Jika mahasiswa/i UIN Datokarama Palu enggan membangun budaya membaca, sulit bagi mereka untuk menjadi motor perubahan yang diharapkan masyarakat.







