Oleh: Raditya Amar Dzaqi
Wartawan LPM Qalamun
Sore itu, di sebuah rumah yang kami sebut “sekret” (basecamp), Ultra Milk datang bersama temannya. Katanya mereka ingin latihan menari untuk persiapan pentas seni. Sore itu, mataku hanya tertuju padanya—matanya yang indah dilapisi senyum manis, dan postur tubuhnya yang mungil seperti botol Ultra Milk. Sejak saat itu aku sadar, benih perasaan ini mulai tumbuh lagi…
Beberapa Hari Sebelumnya (Flashback)
“Woi, Kat!” (Ya, itu aku. Namaku Alpukat, biasa dipanggil Kat.) Suara Doni memanggil dari balik pintu kelas.
“Oi, nape lu?” jawabku.
“Lembaga kita mau ngadain pentas seni nih, kita kurang pemain buat jadi pemeran drama,” kata Doni malas.
“Terus urusannya sama gue apa?” tanyaku bingung.
“Siapa tahu lu mau gabung bareng kita, lu kan juga bagian dari lembaga ini,” bujuknya.
Setelah lama berpikir, akhirnya aku menerima tawaran itu.
“Iya deh, gue gabung,” jawabku.
“Eh tapi gue peran apa nanti?” tambahku.
“Nah pas banget. Karena badan lu besar, gimana kalau lu jadi algojo aja? Kita lagi kekurangan pemeran algojo soalnya,” jelas Doni.
Hari mulai gelap, matahari tenggelam. Di kampus hanya ada aku dan Doni berbincang di depan kelas.
“Ya udah, Don. Gue jadi algojo aja. Gue duluan ya, mau ke kampus sebelah jemput adik gue. Info selanjutnya kirim di WhatsApp aja ya,” ucapku sambil berlari ke arah motor yang sudah terparkir sejak pagi.
Sore itu, setelah berbincang dengan Doni, aku langsung bergegas ke kampus sebelah untuk menjemput adikku, Camila Putri. Sesampainya di rumah, HP-ku tak berhenti berbunyi notifikasi WhatsApp.
-Grup WhatsApp
Doni: Guys, gue udah dapet pemeran algojo.
Tari: Wah, siapa tuh?
Lina: Bisa nggak sih Doni kalau kasih info jangan sepotong gitu?
Doni: Iya iya. Namanya Alpukat, panggilannya Kat. Badannya besar, pas jadi algojo. Welcome ya, Kat.
Aku: Halo guys, mohon bantuannya ya.
Doni: Besok kita mulai latihan di basecamp. Kita gabung bareng anak-anak tari, puisi, dan orasi.
Aku: Banyak juga ya.
Doni: Iya, banyak. Besok kumpul jam 3, jangan ada yang telat.
Grup: Siap laksanakan!
Setelah itu, aku meletakkan HP di kasur, mengambil handuk, dan mandi. Aroma masakan tercium dari dapur—ibu dan adikku sudah menyiapkan makan malam. Selesai makan, aku masuk kamar dan merenung tentang latihan besok. Tak lama, aku pun tertidur.
Keesokan Harinya
Seperti biasa aku berangkat ke kampus, mengikuti aktivitas belajar hingga tiba waktu yang aku tunggu: latihan pentas seni.
Sore itu di basecamp, Ultra Milk datang bersama temannya yang akan latihan menari. Anak drama datang lebih awal, disusul anak tari, puisi, dan orasi. Entah kenapa, pandanganku tak lepas dari dia. Ultra Milk—seperti nama minuman kesukaannya—jadi pusat perhatianku sore itu.
Sebulan Kemudian
Pentas seni telah selesai. Namun, tanda tanya di kepalaku belum juga hilang. Nama Ultra Milk selalu terbesit di pikiranku. Sejak pentas seni, aku dan Ultra Milk sering chatting lewat WhatsApp setiap malam hingga menjelang pagi. Kami membahas perkuliahan hingga hal-hal random. Dari situ, perasaan ini tumbuh semakin besar—perasaan ingin memilikinya.
Siang itu aku mengajaknya ke kantin kampus.
“Dia di mana ya? Kok belum datang?” pikirku resah. Matahari mulai condong ke barat. Dari kejauhan, kulihat sosok mungil berjalan mendekat.
“Hy, Kat,” sapanya.
Lagi-lagi aku terpesona.
“Hy, Yy,” jawabku terbata.
“Udah lama ya nunggu? Maaf dosennya lama banget ngajarnya,” katanya.
“Gak apa-apa kok. Nungguin bidadari mungil mah sampai kapan pun aku rela,” godaku.
Kami pun berbincang di kantin hingga waktu berpisah.
“Hahaha ya udah Kat, gue duluan ya. Kapan-kapan lagi,” ujarnya.
“Iya, hati-hati di jalan,” jawabku. Dalam hati aku berkata, “Kapan ya dia bisa jadi milikku? Besok kan libur, gimana kalau gue ajak dia keliling kota?”
Aku langsung mengirim pesan kepadanya, dan kabar baiknya: dia setuju.
Keesokan Harinya
Di taman.
“Seru nggak?” tanyaku kepada wanita mungil itu yang memegang botol susu kesukaannya.
Sembari tersenyum ia menjawab, “Seruuu banget!”
Hatiku berbisik, “Mungkin ini saatnya aku mengungkapkan semuanya.”
“Milk, gue mau ngomong sesuatu,” kataku serius.
“Mau ngomong apa?” tanyanya.
“Lu mau nggak jadi pacar gue?”
Suasana tiba-tiba hening. Angin sepoi-sepoi terasa menusuk kulit.
“Emm, maaf ya. Bukan nggak mau, tapi kasih aku waktu sehari buat mikirin ini,” jawabnya.
Aku pun mengantarnya pulang karena hari sudah gelap. Di atas motor, kepalaku dipenuhi berbagai dugaan, “Apakah dia akan menolak? Apakah dia sudah punya seseorang?” Sesampainya di rumah aku membersihkan diri dan mencoba menenangkan pikiran yang berisik sejak sore.
Keesokan Harinya
“Tit… tut… tit… tut…” Notifikasi HP-ku berbunyi.
Milk: Ketemu di taman kemarin yuk sore ini.
Kat: Oke!
Perasaan senang dan takut bercampur jadi satu. Menjelang sore aku bergegas ke taman. Dia sudah menungguku. Rasa takut itu reda saat ia tersenyum padaku.
“Iya, aku mau!” katanya tiba-tiba.
Aku bingung, “Kamu mau apa?” tanyaku.
“Aku mau jadi pacar kamu,” jawabnya.
Entah kenapa sore itu taman terasa hangat. Matahari menyiram dari arah barat, angin sepoi-sepoi tak terasa. Perasaan senangku tak terkendali. Tanganku terayun ke depan, spontan aku berseru, “Yeayyyy!”
Sore itu kami tersenyum bahagia menikmati matahari yang perlahan tenggelam.
Di sinilah cerita ini kuakhiri. Dari kata “kamu” dan “aku” terciptalah “kita”.







