Home CERPEN Cat Air dan Koin Harapan

Cat Air dan Koin Harapan

110
0

Oleh: Nur Syam Solehah
Wartawan LPM Qalamun

Nunung hanyalah seorang gadis kecil dari sebuah desa yang bahkan tak tercatat rapi di peta besar. Desa itu sederhana—tempat pagi selalu berbau embun dan sore diwarnai teriakan anak-anak di lapangan bola. Ia tinggal bersama Nenek, satu-satunya keluarga yang tersisa. Tangan keriput Nenek selalu hangat, dan tatapannya adalah pelabuhan paling damai. Bagi Nunung, semua akan baik-baik saja selama Nenek di sisinya.

Sampai suatu hari, Paman—kerabat jauh yang baik hati—mengajaknya ke kota untuk membeli stok alat tulis. Kota selalu terasa istimewa bagi Nunung: penuh suara asing, rambu-rambu yang berkelap-kelip, dan aroma roti dari toko di pinggir jalan. Namun, yang paling menarik perhatiannya hari itu adalah sebuah kotak cat air berwarna merah di etalase toko buku tua.

Mata Nunung nyaris tak berkedip. Di antara tumpukan pensil dan penggaris, kotak itu tampak seperti permata. Di dalamnya ada dua puluh empat tabung cat air kecil, tersusun rapi seperti prajurit yang siap mewarnai dunia. Ia merasakan gejolak aneh di dadanya—rasa yang sama seperti ketika melihat pelangi setelah hujan deras.
“Pak, kotak cat ini berapa harganya?” tanyanya pelan, hampir seperti bisikan.
Kasir tersenyum lembut. “Yang itu? Empat puluh lima ribu rupiah, Dik.”

Empat puluh lima ribu. Angka yang sederhana, tapi bagi Nunung terasa seperti jarak antara mimpi dan kenyataan. Ia keluar dari toko dengan langkah kecil, namun hatinya membawa impian besar. Kotak cat air merah itu kini menjadi kompas barunya.

Setiba di rumah, Nunung memutuskan menabung dari uang jajannya. Tapi uang jajannya seperti air dalam keranjang—selalu bocor sebelum penuh. Maka, ia meminta izin pada Bibinya untuk membantu berjualan es mambo.
“Boleh, asal kamu rajin ya,” kata Bibinya.

Sejak hari itu, perjuangan Nunung dimulai. Setiap sore ia membantu menjual es di depan rumah. Setiap koin lima ratus rupiah yang ia terima, bukan sekadar uang—baginya, itu adalah warna biru, kuning, hijau… potongan kecil dari mimpi yang sedang ia lukis. Ia menabung dengan tekun, berdoa dalam diam, dan menanti saat di mana mimpinya akan terwujud.

Tiga bulan berlalu. Kaleng biskuitnya akhirnya penuh. Tepat Rp45.000,00. Rasanya seperti memenangkan hadiah terbesar di dunia. Ia tahu, tiga hari lagi ia akan ikut Paman ke kota dan membawa pulang kotak merah itu.

Namun, hidup sering kali berubah arah tanpa permisi. Malam itu, Nenek sakit keras. Batuknya tak berhenti, dan wajahnya sepucat kain putih. Obat untuknya hanya bisa dibeli di kota, dan harganya tidak murah.
“Nenek tidak punya cukup uang untuk beli obat,” gumam Nenek lirih.

Nunung terdiam. Di kepalanya, angka Rp45.000 berputar-putar. Ia tahu persis berapa harga obat itu. Dalam hening, ia mengambil kaleng biskuitnya, menghitung uangnya sekali lagi—lalu menyerahkannya kepada Paman.
“Paman, ini uang Nunung. Belikan obat untuk Nenek, ya.”
Suaranya mantap, meski hatinya retak halus.

Paman memeluknya erat. “Kamu anak yang hebat, Nunung.”

Beberapa hari kemudian, Nunung ikut ke kota. Saat melewati toko alat tulis itu, matanya menangkap kotak merah yang masih terpajang di tempat yang sama. Ia berhenti sejenak. Keinginannya masih ada, tapi kini dibungkus rasa ikhlas.
“Tak apa,” bisiknya pelan. “Senyuman Nenek lebih indah dari warna apa pun.”

Sejak hari itu, Paman pindah ke Jawa, dan kotak merah itu perlahan menjadi kenangan. Waktu mengalir seperti sungai di desa—tenang tapi pasti. Nunung kini duduk di kelas 6 SD, tahun 2015. Ia kembali ke kota untuk membeli buku persiapan Ujian Nasional. Setelah membayar, ia menghitung sisa uangnya—dan jantungnya berdegup. Rp45.000,00. Angka yang sama.

Langkah kakinya tanpa sadar membawanya kembali ke depan toko alat tulis itu. Kotak cat air masih ada, meski tampilannya sedikit berbeda. Ia bertanya, penuh harap yang rapuh:
“Pak, yang kotak merah ini berapa harganya?”
Kasir mengetik sebentar di komputer. “Sekarang harganya enam puluh dua ribu, Dik.”

Nunung terdiam. Uang di tangannya seolah mengejek. “Kamu datang terlambat, Nunung.”
Ia tersenyum getir. “Masih belum bisa, ya,” gumamnya pelan. Lalu ia pergi, membawa buku-buku UN—impian barunya yang lebih besar.

Tahun berganti dekade. Kini tahun 2026. Nunung sudah dewasa, menjadi mahasiswi di kota besar. Suatu sore, ia datang ke toko fotokopi untuk membundel skripsinya. Dari balik kaca, matanya menangkap sesuatu yang familiar—kotak cat air merah. Kini tampil lebih modern, lebih mahal, namun masih memancarkan aura yang sama.

Nunung tersenyum lembut. Ia tak lagi ingin memilikinya. Impian masa kecil itu telah terbayar dengan hal-hal yang lebih berarti. Ia teringat pada koin-koin lima ratus rupiah yang dulu ia kumpulkan. Setiap koin membawa harapan kecil seorang anak desa—harapan untuk sembuhnya Nenek, harapan untuk masa depan.

Dan saat itu, ia mengerti:
Kotak cat air merah itu bukan sekadar benda, melainkan simbol perjalanan. Ia mungkin tak pernah memilikinya, tapi dalam usahanya, Nunung telah melukis sesuatu yang lebih indah—lukisan tentang kasih, pengorbanan, dan ketulusan.

Karena, seperti yang selalu dikatakan Nenek,

“Perjuangan yang ikhlas akan menjadi lukisan terindah yang tak lekang dimakan waktu.”

Nunung mungkin tak pernah memegang kuas cat air, tapi ia telah menjadi pelukis sejati—bagi hidupnya sendiri, dan bagi cinta yang ia perjuangkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here