Home CERPEN Selamanya Empat

Selamanya Empat

67
0

Oleh : Aulia Eka Savitri
Pengurus Redaksional

Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Dalam Tiga tahun itu, kami — aku, Iyul, Nurul, dan Azlia — tumbuh bersama, saling mengenal sisi terbaik dan terburuk dari diri masing-masing. Kami bertemu di bangku SMA, di sebuah kelas yang terlalu ramai tapi justru menyatukan kami lewat tawa yang sama: tawa karena kami sama-sama satu frekuensi.

Iyul yang paling dewasa tapi kadang masih plin-plan dalam masalah percintaan, Nurul perempuan yang suka sekali sama makanan pedas dan pecinta anime, Azlia si bungsu yang kadang lemot dan jago dalam urusan menghitung, Dan aku, si tukang yapping. Tapi apapun itu kami berempat menjadi perempuan centil jenaka universe.

Persahabatan kami sederhana — Gorengannya mbak di kantin saat sepulang sekolah, atau nongkrong di belakang Gedung PB tanpa arah sambil membicarakan hal-hal bodoh seperti “apa jadinya kalau manusia bisa baca pikiran.” Tapi di balik kesederhanaan itu, ada sesuatu yang kuat. Kami saling mengerti tanpa perlu banyak kata.

Namun waktu, seperti biasa, punya caranya sendiri untuk mengubah segalanya. Setelah lulus, kami terpisah. Azlia yang kuliah di Gorontalo, Nurul dan Iyul yang kuliah di UNISA, dan aku berada di UIN Datokarama Palu.

Sudah dua tahun sejak kami lulus SMA, tapi satu hal yang tak pernah berubah: grup chat kami masih aktif sampai hari ini. Isinya? Berupa hal-hal konyol, mulai dari mengirim pap random, video aktivitas yang sedang kami lakukan, mabar roblox, misuh-misuh masalah perkuliahan, percintaan, dan mereview manusia di bumi ini. Kadang juga isinya salting, terharu, atau bahkan sampai emosi perihal anomali yang sok caper. Tapi di balik itu semua, grup itu adalah rumah kecil kami — tempat kami selalu kembali, meski hidup membawa ke arah yang berbeda.

Percakapan terus berlanjut dengan tawa dan ejekan, Nurul yang tiba-tiba mengirim foto gorengan langganan kami semasa SMA ke grup chat. Aku, Nurul, dan Iyul yang sudah beberapa kali makan gorengan dan pamer ke azlia karena dia yang berada di Gorontalo tidak bisa merasakan.
Nurul: Mau pamer dulu
Nurul: azlia kapan kemari ditanya mbak tadi
Aku: Anjay makan somay nih, azlia kamu kapan kami bertiga sudah
Iyul: Co liatt
Azlia: Pengen, btw apa mbak bilang nurul
Nurul: Itu si azlia udah nggak pernah beli lagi disini
Aku: Makanya ke palu sudah berteriak gorengan disana.

Aku sangat beruntung punya sahabat seperti mereka, kami memang jarang kumpul tapi grup itu membuat jarak jadi tidak terasa sejauh itu.

Di saat semua orang punya sahabat terbaiknya masing-masing, aku juga punya mereka sebagai sahabat terbaikku, jangan pernah ada kata asing diantara kita. Mari tetap Bersama meski hidup dijalan masing-masing, mari tetap luangkan waktu untuk bertemu atau saling mengirim kabar digrup chat dan bercerita banyak hal, mari saling mengeluh dan terbuka untuk segala hal, dan mari untuk saling menyayangi dan mendukung dalam segala hal baik, selamanya. Aku tahu, dalam hati kami masing-masing, persahabatan ini sudah menembus hal-hal yang tidak bisa dihitung oleh waktu. Tentang rasa yang tetap hidup, bahkan setelah tiga tahun terlewati.

Sesekali mari kita ucapkan terimakasih pada manusia yang kita sebut sebagai sahabat. Yang tidak sedarah, yang menjadi peneduh dikala derita tumbuh, yang sama-sama berlari dalam perjuangan, yang saling memberi semangat walau hidup masing-masing berat. Ayo sehat dan hidup lebih lama hingga Bahagia itu terlihat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here